TIDAK SEMUA YANG LEBIH DINI AKAN LEBIH BAIK

TIDAK SEMUA YANG LEBIH DINI AKAN LEBIH BAIK

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

TIDAK SEMUA YANG LEBIH DINI AKAN LEBIH BAIK

TIDAK SEMUA YANG LEBIH DINI AKAN LEBIH BAIK

Menimbang kembali demam bahasa Inggris pada anak usia dini, yang ramai menampilkan video anak balita yang jago berbahasa Inggris dengan lancar di media sosial. Sebagian orang tua terkagum-kagum, sebagian mulai dihinggapi kegelisahan yang menyelinapi hati.

“Anakku sudah usia lima tahun, kok belum bisa bahasa Inggris?”
“Apa aku terlambat mengenalkannya?”
“Jangan-jangan nanti dia tertinggal?”

Tanpa disadari, perlahan terbentuk sebuah normalisasi baru: seolah-olah semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin baik masa depannya.

Padahal, benarkah demikian…?

Kegelisahan itu sering muncul bukan karena kebutuhan anak, melainkan karena perbandingan.

Kita melihat anak lain mampu mengucapkan kosakata bahasa Inggris di usia dini, lalu mulai khawatir terhadap anak sendiri. Akhirnya, masa kanak-kanak yang semestinya mengalir alami berubah menjadi serangkaian target yang harus dicapai.

Padahal setiap fase kehidupan memiliki tugas perkembangannya masing-masing. Anak usia dini tidak sedang dipersiapkan menjadi penerjemah bahasa asing.

Mereka sedang membangun fondasi yang jauh lebih mendasar dan penting: mengenal diri, mengenal penciptanya, memahami lingkungan, mengelola emosi, membangun kedekatan dengan keluarga, serta menyerap nilai-nilai kehidupan.

Semua itu pertama kali dipelajari melalui bahasa yang paling dekat dengan jiwanya: bahasa ibu.

Bahasa ibu bukan hanya bahasa pertama yang didengar anak, tetapi juga tempat pertama ia belajar memahami makna. Dari fondasi pemahaman inilah kelak ia lebih siap memahami berbagai bahasa ilmu, termasuk bahasa Arab yang menjadi pintu untuk memahami Al-Qur’an, hadits, dan khazanah keislaman. (1)

Bahasa ibu bukan sekadar alat berbicara, ia rumah pertama bagi makna. Melalui bahasa ibu, anak belajar memahami makna cinta, kecewa, syukur, sabar, hormat, amanah, dan berbagai pengalaman hidup lainnya.

Melalui bahasa ibu pula, anak belajar menamai perasaannya.
“Aku sedih.”
“Aku marah.”
“Aku takut.”
“Aku kecewa.”
“Aku senang.”
“Aku bahagia.”

Kemampuan memberi nama pada emosi inilah yang kelak menjadi dasar kemampuan mengelola emosi diri.

Karena itu, dalam perspektif pendidikan fitrah, masa thufulah adalah masa penuntasan fondasi bahasa pertama. Sebab sebelum anak mampu memahami bahasa kedua dengan baik, ia membutuhkan rumah makna yang kokoh dalam bahasa pertamanya.

Seperti membangun rumah, fondasi tidak selalu terlihat megah. Namun justru fondasilah yang menentukan kekuatan bangunan di kemudian hari.

Salah satu kekeliruan yang terjadi, menganggap bahwa memulai sejak dini, pasti menghasilkan kemampuan yang lebih tinggi.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Banyak orang yang belajar bahasa asing tidak dimulai dari usia dini, bahkan pada usia dewasa, namun mampu melejit mencapai penguasaan yang sangat baik dalam waktu relatif singkat. Sosok sahabat: Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu menguasai bahasa asing dalam setengah bulan. (2)

Bukan karena mereka lebih pintar, tetapi karena berbagai fondasi penting telah terbangun:
– kemampuan berpikir yang matang,
– pemahaman bahasa pertama (bahasa ibu) yang kuat,
– motivasi belajar yang jelas,
– serta kesiapan mental dan intelektual yang lebih baik.

Ibarat pohon, selama bertahun-tahun yang tumbuh mungkin hanya akar. Tidak banyak yang terlihat di permukaan. Namun ketika akar telah kuat, pertumbuhan batang dan cabangnya bisa berlangsung sangat cepat melesat.

Mempelajari bahasa asing, bukan berarti tak bermanfaat. Bahkan dalam sejarah Islam, para ulama pun mempelajari berbagai bahasa untuk mengakses ilmu dan berdakwah.

Namun sejarah pendidikan nabawiyah mengajarkan bahwa yang lebih penting daripada mempercepat segala sesuatu adalah menyiapkan fondasi iman yang kokoh. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu tidak dikenal karena menjadi anak yang dipaksa menguasai banyak bahasa sejak balita, tetapi karena iman, potensi kecerdasan, kesungguhan, dan kesiapan dirinya ketika amanah itu datang.

Maka yang perlu dikritisi adalah ketika mengajarkan bahasa ke dua berubah dari sebuah keterampilan menjadi ukuran keberhasilan pendidikan anak usia dini.

– Ketika anak yang belum fasih bahasa Inggris dianggap tertinggal.
– Ketika orang tua merasa bersalah karena anaknya lebih banyak menggunakan bahasa ibu.
– Ketika masa bermain, kedekatan keluarga, dan proses tumbuh alami anak tergeser oleh target-target akademik yang belum menjadi kebutuhannya.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah yang sedang kita kejar benar-benar kebutuhan anak, atau hanya standar sosial yang sedang populer?”

Percayalah pada proses tumbuh yang Allah tetapkan. Setiap potensi memiliki waktunya. Tidak semua buah matang pada musim yang sama. Namun bukan berarti buah yang matang lebih lambat akan menghasilkan kualitas yang lebih rendah.

Tugas orang tua bukan mempercepat semua proses, melainkan menjaga agar setiap tahap pertumbuhan berlangsung dengan sehat alamiah, tanpa melukai fitrah anak.

– Menguatkan bahasa ibu.
– Mengisi hati anak dengan iman dan makna.
– Menumbuhkan cinta adab.
– Membangun kedekatan.
– Menghidupkan kecintaan belajar.

Ketika fondasi itu kokoh, insya Allah kemampuan² lain akan lebih mudah tumbuh pada waktunya, termasuk bahasa asing.

Karena keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat anak mampu mengucapkan kata-kata dalam bahasa lain.

Melainkan dari seberapa kokoh ia memahami dirinya, mengenal Robbnya, mengelola emosinya, dan menyerap nilai-nilai kehidupan melalui bahasa yang pertama kali mengisi hatinya.

Bahasa asing adalah cabang. Bahasa ibu adalah akar. Dan pohon yang sehat selalu menguatkan akarnya terlebih dahulu sebelum memperlebar cabangnya.

Wallahu A’lam Bishawab.

Khusna Banaha Ummu Hubbi

Catatan kaki:
1). Allah Ta’ala berfirman:

ا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an dengan berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)
Perhatikan kalimat la’allakum ta’qilun (agar kalian mengetahui makna²nya dan memahami kandungannya)
Artinya bahasa berfungsi sebagai sarana menuju pemahaman.

2). Sunan Tirmidzi 2639:
سنن الترمذي ٢٦٣٩: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَوَاهُ الْأَعْمَشُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُبَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

2). Sunan Tirmidzi 2639: Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hujr] telah mengabarkan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Az Zinad] dari [Ayahnya] dari [Kharijah bin Zaid bin Tsabit] dari ayahnya yaitu [Zaid bin Tsabit] ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku mempelajari bahasa orang-orang Yahudi untuk beliau, beliau bersabda: “Demi Allah, aku tidak percaya Yahudi atas suratku.” Zaid berkata: “Setengah bulan berlalu hingga aku dapat menguasainya untuk beliau.” Saat aku mengusainya, apabila beliau hendak mengirim surat kepada orang-orang Yahudi, aku menulisnya kepada mereka dan apabila mereka mengirim surat kepada beliau, maka aku membacakan surat mereka untuk beliau.” Abu Isa berkata: Hadits ini shahih. Diriwayatkan melalui sanad lain dari Zaid bin Tsabit. Diriwayatkan oleh [Al A’masy] dari [Tsabit bin Ubaid Al Anshari] dari [Zaid bin Tsabit] ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.”

Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *