PENERIMAAN MENDAHULUI PERTUMBUHAN

PENERIMAAN MENDAHULUI PERTUMBUHAN

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

PENERIMAAN MENDAHULUI PERTUMBUHAN

PENERIMAAN MENDAHULUI PERTUMBUHAN

Ada kalanya lelah yang melanda jiwa bukan karena anak berbuat cela. Melainkan karena sosok yang ada di depan mata tak serupa dengan bayangan yang dahulu kita damba.

Kita memimpikan anak yang mudah diarahkan, namun Allah menitipkan anak yang kritis dan gemar bertanya. Kita mendambakan anak yang tenang dan kalem, namun Allah menghadirkan jiwa anak yang aktif dan penuh tenaga. Kita menginginkan anak yang cepat memahami pelajaran, namun Allah mengamanahkan anak yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk bertumbuh.

Di situlah ujian pengasuhan sering kali bermula.

Bukan pada anak yang sedang bertumbuh, melainkan pada kelapangan hati kita dalam menerima takdir Allah yang hadir melalui dirinya.

Tanpa disadari, kita sibuk memperbaiki apa yang sejatinya belum selesai kita terima. Kita ingin anak berubah. Kita ingin anak berkembang. Kita ingin anak menjadi lebih baik. Keinginan itu tentu tidak salah. Namun tergesa-gesa menuntut buah sering kali membuat kita lupa merawat akar.

Padahal Al-Qur’an mengabadikan sebuah pelajaran pendidikan yang begitu indah melalui kisah Maryam.

Allah Ta’ala berfirman:

«فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا

“Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran: 37)»

Betapa menenangkan susunan ayat ini.

Allah mendahulukan penerimaan sebelum pertumbuhan.

Bukan menumbuhkan lalu menerima. Bukan pula menuntut perubahan sebelum memberikan penghargaan. Namun menerima terlebih dahulu, kemudian menumbuhkan.

Seolah-olah Allah ta’ala sedang menunjukkan kepada kita sebuah sunnatullah pendidikan yang sering terlupakan:

Apa yang ingin tumbuh dengan baik, harus lebih dahulu diterima dengan baik.

Menariknya, Allah menggunakan kata “Rabbuha”– Rabbnya.

Rabb adalah Dzat Yang memelihara, merawat, menjaga, membimbing, dan menumbuhkan sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaannya.

Sebelum Maryam ditumbuhkan oleh Rabbnya, ia terlebih dahulu diterima oleh Rabbnya.

Di sinilah kita belajar bahwa salah satu jejak rububiyah Allah dalam pendidikan adalah mendahulukan penerimaan sebelum pertumbuhan.

Bukankah benih yang ditanam pun demikian?

Ia tidak dibandingkan dengan tanaman lain yang tumbuh lebih cepat.

Ia tidak disalahkan karena belum menjulang tinggi.

Ia tidak dimarahi karena belum berbunga

Ia tidak dihukum karena belum berbuah.

Sang petani memahami bahwa setiap benih memiliki waktu pertumbuhannya sendiri. Maka ia tidak menarik batangnya agar segera tinggi. Ia hanya menyiapkan tanah yang subur, menyiraminya dengan penuh kesabaran, menjaga dari hama dan kerusakan, lalu mempercayakan proses tumbuhnya kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya.

Demikian pula anak-anak kita.

Mereka tidak membutuhkan orang tua yang terus-menerus menuntut tanpa jeda. Mereka membutuhkan orang tua yang mampu melihat potensi yang Allah titipkan di dalam dirinya, meskipun hari ini potensi itu belum tampak sepenuhnya.

Mereka membutuhkan penerimaan sebelum pengarahan.

Membutuhkan kedekatan sebelum nasihat.

Membutuhkan rasa aman sebelum keberanian.

Karena fitrah tidak tumbuh dalam tekanan.

Fitrah bertumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi cinta, kepercayaan, dan penerimaan.

Penerimaan bukan berarti membiarkan kesalahan.

Penerimaan juga bukan berarti berhenti memberikan bimbingan.

Penerimaan adalah kemampuan melihat anak sebagai amanah Allah yang sedang berproses.

Menerima bahwa ia belum sampai, tetapi sedang berjalan.

Menerima bahwa ia belum mampu, tetapi sedang belajar.

Menerima bahwa ia belum sesuai harapan, tetapi Allah sedang menumbuhkannya dengan cara-Nya yang paling bijaksana dan sempurna.

Sering kali kita lebih fokus bertanya,

“Mengapa anakku belum berubah?”

Padahal ada satu pertanyaan yang lebih layak kita renungkan,

“Sudahkah aku menerimanya dengan penerimaan yang baik?”

Sebab sering kali, yang menghambat pertumbuhannya bukanlah kurangnya arahan, kurangnya aturan, atau kurangnya metode pendidikan.

Melainkan karena hatinya belum sepenuhnya merasakan penerimaan dari orang-orang yang paling ia cintai.

Mari belajar dari cara Allah ta’ala mendidik Maryam.

Dahulukan penerimaan, lalu iringi dengan pertumbuhan.

Jangan tergesa menuntut buah, rawatlah akar dengan penuh kesabaran.

Jangan terlalu sibuk menghitung hasil, tetapi suburkanlah tanah tempat ia bertumbuh.

Karena pertumbuhan terbaik tidak lahir dari tuntutan yang berat.

Ia tumbuh perlahan dari hati yang diterima, dicintai, dan dipercaya.

Dan di sanalah fitrah menemukan ruang terbaiknya untuk berkembang.

Sebab penerimaan bukan akhir dari pendidikan.
Penerimaan adalah awal dari pertumbuhan.

Wallahu a’lam.

Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *