┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
KETIKA ILMU BERHENTI DI KEPALA
KETIKA ILMU BERHENTI DI KEPALA
Antara Kuatnya Ingatan dan Hidupnya Kesadaran.
Mungkin sejenak perlu kita berani katakan dengan jujur: pendidikan kita hari ini terlalu berorientasi menguatkan ingatan, namun belum sungguh-sungguh dalam menumbuhkan kesadaran. Hingga hadir berbagai teori dan cara melejitkan daya ingat, agar tidak mudah lupa, tetapi jarang memastikan apakah yang diingat itu benar-benar menghidupkan jiwa?
Di banyak ruang belajar, kemampuan mengingat dielukan-elukan ditempatkan di posisi tertinggi. Yang cepat menangkap dianggap unggul. Yang mampu mengulang tanpa salah disebut cerdas. Ingatan yang kuat dipuji, sementara jiwa yang hidup jarang disapa.
Namun, ternyata dengan perlahan ada yang bergeser dari tujuan yang seharusnya.
Ilmu perlahan direduksi menjadi sekadar informasi. Mengingat dijadikan tujuan, bukan jalan. Padahal Allah ta’ala menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar apa yang tersimpan di kepala, melainkan apa yang menghidupkan kesadaran.
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟
“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fatir: 28)
Ayat ini tidak memuliakan banyaknya hafalan, tetapi buah dari ilmu itu sendiri: hadirnya rasa tunduk, takut dan kesadaran taat kepada Allah. Maka ilmu yang tidak melahirkan itu, sejatinya belum sampai pada tujuannya.
Bahkan Allah memberikan perumpamaan yang sangat menggugah dengan firman-Nya:
مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kemudian mereka tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)
Sebuah gambaran yang tajam—bahwa membawa banyak pengetahuan tanpa pemahaman dan pengamalan bukanlah kemuliaan, melainkan kehampaan yang tersamar.
Di sinilah letak kegelisahan itu menemukan sebabnya.
Kita mungkin sedang membangun kemampuan mengingat, tetapi belum tentu menumbuhkan kemampuan memahami. Kita melatih penyimpanan, namun belum tentu melatih penimbangan. Kita memperkuat hafalan, namun belum tentu menghidupkan kesadaran.
Padahal, memahami itu sendiri sering disalahpahami. Banyak yang mengira bahwa memahami cukup dengan otak—selama seseorang bisa menjelaskan, berarti ia telah paham. Padahal dalam pandangan Al-Qur’an, pusat pemahaman justru ada di hati.
Allah ta’ala berfirman:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا
“…mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahaminya…”
(QS. Al-A’raf: 179)
Ayat ini tidak menyebut otak, tetapi hati sebagai alat untuk memahami. Ini memberi isyarat bahwa memahami bukan sekadar proses berpikir, tetapi proses menerima dan memaknai.
Otak menangkap,
hati yang memahami.
Otak mengolah,
hati yang menentukan arah.
Otak memproses,
hati yang meyakini.
Maka seseorang bisa saja memiliki banyak pengetahuan, mampu menjelaskan, bahkan menguasai berbagai informasi—namun dia tetap belum benar-benar memahami. Karena apa yang ia tahu belum menyentuh hatinya dan belum menggerakkan sikapnya.
Di sinilah perbedaan antara :
“tahu” dan “paham”.
Tahu berhenti di kepala.
Paham turun ke hati, lalu hidup dalam perilaku.
Dan inilah yang ditempuh oleh generasi terbaik umat ini:
Salah seorang tabiin,
Abu Abdirraḥman As-Sulami raḥimahullah berkata;
“Para sahabat Nabi ﷺ yang mengajarkan kami Al-Qur’an berkata bahwa mereka dahulu mempelajari sepuluh ayat dari Rasulullah ﷺ. Mereka tidak menambah sepuluh ayat lainnya sampai mereka memahami ilmu dan amalan dari ayat-ayat tersebut. Mereka berkata, ‘Kami pun memahami dan mengamalkan (ayat tersebut).” (HR. Ahmad no. 23482)
Imam Ibnu Syihab Az Zuhri rahimahullah berkata;
“Janganlah mengambil ilmu dengan sekaligus, karena barangsiapa yang mengambil ilmu dengan sekaligus, maka akan hilang darinya sekaligus. Namun ambilah sedikit-demi-sedikit, bersamaan dengan hari-hari dan malam-malammu” ((Jami Bayanil Ilmi wa Fadhilih, 1/104, dinukil dari Ath-Thariq ila Nubughil Ilmi, 18-19).
Ini bukan tentang kecepatan, tetapi kedalaman pemahaman. Bukan tentang banyaknya yang diambil, tetapi sejauh mana ia meresap dan diamalkan.
Imam Malik bin Anas rahimahullah mengingatkan:
“Ilmu itu bukan banyaknya riwayat atau hafalan, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
(Jami‘ Bayan al-‘Ilm, Ibn Abd al-Barr )
Cahaya itu tidak menyala dari sekadar mengingat, tetapi ia bersinar dari kejujuran dalam menerima dan kesadaran dalam mengamalkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Ini menegaskan bahwa ilmu tidak berhenti pada yang diketahui, tetapi akan dimintai pertanggungjawaban dalam bentuk amal.
Di sisi lain, kita hari ini sering gelisah dengan segala bentuk yang dipandang “lambat”. Sedikit ingat, dikatakan bodoh, bahkan lupa dianggap masalah. Tidak cepat menangkap dianggap hambatan. Maka berbagai cara ditempuh untuk mendobrak apa yang dianggap sebagai penghalang.
Padahal tidak semua yang tertunda itu kegagalan.
Tidak semua yang lupa itu kesalahan.
Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah menghapuskan dari umatku dosa ketika mereka dalam keadaan keliru, lupa dan dipaksa.” (HR.Shahih. Ibnu Majah, no. 2045.).
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
مَنْ فَعَلَ مَحْظُورًا نَاسِيًا لَمْ يَكُنْ قَدْ فَعَلَ مَنْهِيًّا عَنْهُ
“Barangsiapa melakukan suatu yang terlarang karena lupa, maka ia tidak dikatakan melakukan suatu yang terlarang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 20:573)
Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun firman Allah Ta’ala;
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286). Lalu Allah menjawab, aku telah mengabulkannya.” (HR. Muslim, no. 125).
Maka sebagian proses memang harus ditumbuhkan, bukan dipercepat. Sebagian pemahaman harus dimatangkan, bukan dipaksakan. Karena manusia bukan mesin yang cukup diisi lalu diharapkan bekerja sempurna. Ia memiliki ruh, memiliki rasa, memiliki fitrah yang tidak tunduk pada logika instan.
Maka dari itu, satu hal pertanyaan mendasar, penting untuk kita renungkan :
“Untuk apa semua yang diingat itu?”
Jika hanya untuk performa, ia akan memudar bersama waktu. Jika hanya untuk pengakuan, ia akan kosong ketika tidak lagi dipuji. Namun jika terikat dengan makna, ia akan tetap hidup dalam jiwa, bahkan ketika kata-kata yang dihafal telah terlupa.
Maka ilmu itu bukan seberapa banyak yang diingat, tapi apa yang benar-benar tercermin pada perilaku.
Pengetahuan bukan sekadar banyaknya yang dihafal, tapi yang mampu menumbuhkan kesadaran. Ia seharusnya menuntun, meluruskan langkah, menenangkan jiwa, dan mendekatkan kepada Allah ta’ala.
Jika orientasi pendidikan hanya menambah banyaknya beban pengetahuan, tapi belum juga tampak adanya perubahan, maka yang perlu dibenahi bukan cara mengingatnya, tapi cara memahami dan menjalani ilmu itu sendiri.
Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment