┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
ANAK BERKEHEBATAN KHUSUS (ABK)
ANAK BERKEHEBATAN KHUSUS (ABK)
Setiap anak terlahir dalam keadaan ABK, yaitu setiap anak memiliki kehebatan bawaan yang khusus (1), yang menjadikan setiap anak berbeda satu dengan lainnya.
Ada tiga kompetensi jiwa (2) yang ada dalam diri setiap manusia, yaitu cenderung bergerak, berpikir, dan berperasaan. Terkait tiga kompetensi jiwa tersebut, Allah ta’ala memberikan jumlah yang sama pada setiap manusia (3), tetapi tiap kompotensinya memiliki kekuatan yang berbeda-beda (4):
– Ada anak yang dominan berpikir, tetapi dalam berperasaan dan bergerak biasa saja. Disebut dengan anak pemikir.
– Ada anak yang dominan berperasaan, tetapi dalam berpikir dan bergerak biasa saja. Disebut dengan anak perasa.
– Ada anak yang dominan bergerak, tetapi dalam berpikir dan berperasaan biasa saja. Disebut dengan anak penggerak.
Ketiga tipe anak tersebutlah yang sering dianggap anak normal, dan yang dianggap paling hebat adalah tipe anak pemikir yang mudah paham banyak hafalannya, dan betah duduk lama. Sedangkan tipe anak yang lainnya dianggap tidak hebat. Padahal sejatinya setiap anak adalah hebat, hanya saja kehebatannya yang berbeda-beda. karena setiap anak sama dalam jumlah kekuatan kompetensi jiwanya.
Adapun anak-anak yang selain tiga tersebut sering dianggap berkebutuhan khusus (tidak normal). Ini adalah sikap tidak adil terhadap anak!
Meskipun ada sisi yang kurang ma’ruf diantara kompetensi jiwanya, tetapi pada kompetensi lainnya memiliki keunggulan yang jauh lebih tinggi.
Kuatkan potensi unggul anak, maka kekurangannya akan terangkat ma’ruf, insya Alloh.
Misal:
– Ada anak yang lemah dalam berpikir, sehingga pada usia 16 tahun belum bisa membaca dan menulis dengan baik. Jika hanya fokus pada kekurangannya saja, pastinya anak tersebut diberi label anak berkebutuhan khusus alias tidak normal. Padahal kalau diperhatikan pada kompetensi jiwa yang lain, anak tersebut gesit dalam bergerak dan mahir dalam melayani orang lain dengan perasaannya. Bisa jadi anak ini nantinya tidak menjadi ahli ilmu, tetapi bukankah dunia ini membutuhkan relawan dan pelayan ummat?. Setiap anak kelak akan memiliki peran yang berbeda-beda sesuai keunikannya. Setiap anak adalah hebat dengan kehebatan yang berbeda dengan lainnya, alias ABK, yaitu Anak Berkehebatan Khusus. Janganlah anak dijuluki dengan istilah yang terkait dengan kekurangannya, tetapi berilah julukan yang terkait dengan kelebihannya, misalnya dengan julukan anak yang cerdas bergerak dan berperasaan, atau anak pekerja keras yang perasa.
– Contoh yang lain adalah ada anak yang diberi label autis. Memang anak yang demikian ini kurang dalam memahami isyarat sosial seperti empati, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh, karena kompetensi perasaannya yang kurang. Namun anak yang demikian ini dilebihkan oleh Allah ta’ala di kompetensi berpikir. Sehingga kelak mungkin tidak maksimal jika berperan sebagai guru TK, pengasuh anak yatim, relawan, perawat, dsb. Tetapi akan hebat jika menjadi ahli ilmu insya Alloh ta’ala. Inilah yang seharusnya tidak diberi label autis, tetapi dengan julukan anak brilian.
– Dan masih banyak anak ABK lainnya dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang diberi label Disleksia, ADHD, Hiper Active, dll. Padahal mereka semua punya kehebatan khusus yang Allah berikan untuk menutupi kekurangannya.
Jadi
Jika ada anak memiliki kekurangan, janganlah fokus pada kekurangannya saja, tetapi justru harus fokus pada kelebihannya. Mana diantara tiga kompetensi jiwa yang dominan, lalu kuatkan kelebihan tersebut, maka kekurangannya akan tertutupi secara ma’ruf.
Wallahu a’lam
Abdul Kholiq
Catatan:
(1) Firman Allah ta’ala:
﴿ قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلٗا ﴾
“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS. Al Isra’: 84)
(2) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وَالنَّفْسُ قَدْ تَكُوْنً تَارَةً أَمَّارَةً، وَتَارَةً لَوَّامَةً، وَتَارَةً مُطْمَئِنَّةً، بَلْ فِيْ الْيَوْمِ الوَاحِدِ وَالسَّاعَةِ الوَاحِدَةِ يُحْصَلُ مِنْهَا هَذَا وَهَذَ
“Jiwa itu kadang ammarah, kadang lawwamah, dan kadang muthmainnah. Bahkan dalam satu waktu dapat berubah-ubah sedemikian rupa”. (Ibnul Qayyim, Ighatsatul lahfan, 1/84)
(3) Dalam tafsir surat Ar Rum: 30, tentang fitrah, Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya,
أنه تعالى ساوى بين خلقه كلهم في الفطرة على الجبلة المستقيمة ، لا يولد أحد إلا على ذلك، ولا تفاوت بين الناس في ذلك
“Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan fitrah secara sama rata di antara semua makhluk-Nya sebagai pembawaan yang lurus (baik). Tiada seorang pun yang dilahirkan melainkan dibekali dengan pembawaan tersebut, dan tiada perbedaan di antara manusia dalam hal itu”. (Tafsir Ibnu Katsir, 11/26)
(4) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ
“Sesungguhnya Allah ta’ala telah membedakan akhlaq (sifat-sifat) diantara kalian sebagaimana membedakan rezeki-rezeki diantara kalian”. (HR. Ahmad dan Baihaqi didalam Su’abul Iman)
𝓑𝓪𝓪𝓻𝓪𝓴𝓪𝓵𝓵𝓪𝓱𝓾 𝓕𝓲𝓲𝓴𝓾𝓶 🌻
𝗣𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗿𝗮𝗸𝘁𝗲𝗿 𝗡𝗮𝗯𝗮𝘄𝗶𝘆𝗮𝗵
Penulis : Ust Abdul Kholiq Hafidzahullah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment