┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
PATUH TANPA CCTV
PATUH TANPA CCTV
Kepatuhan adalah perhiasan terindah yang tampak pada diri seseorang yang dapat dilihat oleh orang lain, seperti kepatuhan rakyat kepada penguasanya, kepatuhan buruh kepada majikannya, kepatuhan istri kepada suaminya, kepatuhan anak kepada orangtuanya, dll. Betapa indahnya ketika murid patuh dengan aturan yang berlaku di sekolah.
Namun sejatinya tidak semua kepatuhan itu indah, bergantung pada sesuatu yang mandasarinya. Ada kepatuhan yang didasari rasa takut hukuman jika melanggar aturan (patuh karena takut). Ada kepatuhan karena kepentingan untuk mendapatkan sesuatu (patuh karena harapan). Ada juga kepatuhan karena didasari rasa cinta kepada aturan dan pembuatnya (patuh karena cinta).
Semua dari tiga jenis kepatuhan tersebut sebenarnya tidaklah indah, jika yang mendasarinya hanya satu unsur yang berdiri sendiri tanpa terkait dengan unsur yang lainnya.
1. Patuh karena takut (1)
Yaitu kepatuhan yang hanya didasari rasa takut terhadap hukuman (punishment).
– Akan segera hilang bersamaan dengan tidak hadirnya pemberi hukuman, bahkan akan cenderung lebih melanggar karena tekanan yang dirasakan sebelumnya mendapat kesempatan untuk dilampiaskan.
– Membutuhkan aturan yang sangat ketat terkait dengan hukuman.
– Membutuhkan pengawasan ketat bahkan CCTV, pagar, absensi, penjaga (satpam), dan jadwal ketat.
– Membutuhkan waktu yang singkat untuk menjadikan takut.
2. Patuh karena harapan (2)
Yaitu kepatuhan yang hanya didasari kepentingan karena adanya janji yang ditawarkan untuk mendapatkan sesuatu jika patuh (reward).
– Akan menghilang bersamaan dengan ketiadaan janji.
– Membutuhkan aturan terkait pemberian penghargaan (reward)
– Perlu pengawasan terhadap perilaku positif yang dilakukan untuk diberi penghargaan (reward).
– Membutuhkan waktu yang sedang utuk menjadikan menerima tawaran janji.
3. Patuh karena cinta (3)
Yaitu kepatuhan yang hanya didasari rasa cinta kepada yang membuat aturan.
– Akan menghilang bersamaan dengan ketiadaan cinta kepada pembuat aturan, dan akan menjadikan fanatik buta jika cintanya menguat.
– Tidak membutuhkan aturan ketat.
– Tidak perlu pengawasan ketat, apalagi CCTV.
– Membutuhkan waktu lama untuk menjadikan mencintai.
Jika ketiga kepatuhan tersebut berdiri sendiri-sendiri, maka patuh karena takut akan cepat patuh tapi rapuh (cara instan), patuh karena harapan akan menjadi berkepentingan, dan patuh karena cinta saja akan menjadi fanatik buta. Namun jika ketiga kepatuhan tersebut berkumpul menjadi satu, maka akan menjadi kepatuhan yang sangat indah (4). kepatuhan yang ada rasa takut dan harap, dan dasar utamanya adalah rasa cinta (5), terutama cinta kepada Allah azza wajalla. Kepatuhan yang tanpa perlu aturan dan hukuman, kepatuhan yang tanpa perlu iming-iming janji dan kepentingan, patuh tanpa perlu pengawasan, pagar, penjaga, dan patuh tanpa perlu CCTV.
Catatan:
(1) Beberapa ulama mengatakan:
ومَن عبده بالخوف وحده فهو حروري أي خارجي
“Orang yang beribadah kepada Allah hanya dengan TAKUT saja, maka dia adalah HARURI KHAWARIJ”. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al fatawa, 15/21).
(2) Beberapa ulama mengatakan:
ومَن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ
“Orang yang beribadah kepada Allah hanya dengan HARAP saja, maka dia adalah MURJI’AH”. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al fatawa, 15/21).
(3) Beberapa ulama mengatakan:
مَن عبد الله بالحب وحده فهو زنديق
“Orang yang beribadah kepada Allah hanya dengan CINTA saja, maka dia adalah SHUFI ZINDIQ”. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al fatawa, 15/21).
(4) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
القلبُ في سيره إلى الله – عزَّ وجلَّ – بمنزلة الطَّائر، فالمحبَّة رأسه، والخوف والرَّجاء جناحاه، فمتى سلِم الرَّأس والجناحان، فالطائر جيِّدُ الطيران، ومتى قطع الرأس، مات الطائر، ومتى فقد الجناحان، فهو عرضة لكل صائدٍ وكاسر
“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla adalah seperti seekor burung. Cinta (kepada Allah) adalah kepala burung, sedangkan takut dan harapan adalah sayapnya. Jika kepala dan sayapnya selamat, maka burung itu akan terbang dengan baik. Jika kepala burung dipotong, maka burung itu akan mati. Dan jika sayap burung hilang, maka ia akan menjadi mangsa bagi setiap pemburu”.
(Ibnul Qayyim, Madaarijussaalikin, 1/514)
(5) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
الْحُبُّ أَصْلُ كُلِّ عَمَلٍ
“Cinta itu pokok dari setiap perbuatan”. (Qaa’idah fil mahabbah)
Ustadz Abdul Kholiq hafidzahullah.
SKIS Semarang
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment