┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
KEKERASAN ANAK CERMIN KELALAIAN
KEKERASAN ANAK CERMIN KELALAIAN
Fenomena bullying kekerasan terjadi pada anak, semakin marak.
Sebelum menyalahkan tindak kekerasan mereka, ada baiknya bertanya: “Siapa yang membiarkan anak-anak tumbuh kasar dan keras tanpa rasa malu?”
Kekerasan yang dilakukan anak adalah cermin yang memantulkan kualitas pendidikan—baik pendidikan di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Wahai para orang tua renungkan …
Jika tangan kaki anak bisa memukul dan menendang tanpa merasa bersalah,
Mulutnya tajam menghina dan memaki tanpa perasaan menyesal,
maka janganlah terburu-buru mengkambinghitamkan pihak sekolah dan lingkungannya.
Tanyakan lebih dulu,
apa yang anak dengar dan lihat di rumah?
Sebab anak tidak belajar keji dan kejam dari ilmu pengetahuan—mereka belajar dari teladan dan cinta yang hilang,
dari ego yang tak pernah dituntun,
dari kasih sayang yang sering ditunda-tunda diberikan.
Rumah yang tidak menanamkan akhlak dan kelembutan,
akan menuai kekerasan di luar dinding rumah.
Jika pemandangan rumah tak ramah,
kekasaran dan kekerasan sering terlihat dan terdengar,
anak akan mudah menirukannya.
Jika orang tua egois, tidak pernah meminta maaf, anak pun tak tahu cara merendahkan hati.
Jika hak kasih sayang anak sering diabaikan,
maka empatinya akan mati perlahan.
Kekerasan anak bukan hanya salah diri anak,
tapi itu pantulan dari kelalaian pendidikan rumah yang kering dari cinta.
Wahai para guru di sekolah…
Ketika satu anak dibully ramai-ramai, itu bukan hanya masalah murid— itu alarm keras bahwa teladan guru dan pembinaan akhlak di sekolah rapuh.
Jika sekolah lebih bangga pada nilai daripada pada akhlak,
jika laporan harian lebih penting daripada membaca wajah murid,
jika regulasi diperketat tapi hati murid dibiarkan kosong,
maka kekerasan adalah konsekuensi yang hanya menunggu waktu.
Anak-anak itu bukan hanya butuh rumus dan hafalan;
mereka butuh ruh guru pendidik yang hadir sepenuhnya,
yang peka pada perubahan kecil,
yang tidak menyepelekan ejekan kecil,
yang tahu bahwa luka moral lebih berbahaya daripada nilai rendah.
Jika pendidik sibuk laporan, sibuk nilai, sibuk target yang dikejar,
sampai tidak melihat luka kecil di sudut-sudut kelas,
maka kekerasan oleh murid, hanyalah akibat dari kelalaian bersama.
Anak-anak itu bukan menjadi keras dan nakal secara tiba-tiba—
mereka itu cermin dari lingkungan pendidikan yang hatinya tak hadir.
Untuk pihak sekolah dan pemangku kebijakan…
Lihatlah sekolah terlalu sibuk dengan angka,
hingga lupa menguatkan jiwa.
Sadarilah, anak yang nilai rapornya tinggi dan berprestasi,
bisa saja hatinya sedang retak tertekan atau terpaksa,
Hati mereka meronta meminta didengar dan dituntun.
Tugas sekolah bukan sekadar menjaga disiplin,
tapi juga menanamkan rasa hormat,
mengajarkan rasa malu,
dan menguatkan adab sehari-hari dari teladan para guru.
Namun, kita terlalu sibuk mengejar reputasi dengan prestasi angka dan juara,
sampai lupa mengajarkan kejujuran dan kemanusiaan.
Kita bangga pada piala,
tapi hati beku pada kekerasan yang terjadi di seragam yang sama.
Jika satu murid dihina, dipukul dan dtendang teman-temannya,
itu bukan sekadar pelanggaran tata tertib—
itu bukti bahwa sistem pendidikan karakter di sekolah telah lemah.
Wahai masyarakat…
Jangan hanya marah-marah tanpa memberi solusi, setiap menonton berita kekerasan yang dilakukan anak-anak.
Cobalah tanyakan pada diri sendiri:
“Kenapa hanya sibuk menonton dan komentar, tapi lupa memperbaiki diri, keluarga dan lingkungan?”
Kekerasan anak sekolah bukan tragedi spontan—
itu hasil dari nilai yang kita diamkan dan biarkan luntur…
Selama manusia dewasa menormalkan ejekan kecil, pembiaran tanpa bimbingan dan nasehat,
menganggap kekerasan “biasa tuuh….anak-anak,”
menutup mata, tak peduli pada tanda-tanda awal, maka tragedi seperti ini akan terulang…
lagi, dan lagi, dan lagi.
Hingga terjadi kekerasan lebih keras,
yang hari ini kekerasan oleh anak telah merenggut jiwa manusia.
Dan nanti, ketika anak-anak tumbuh menjadi dewasa yang kasar dan brutal, jangan terkejut.
Mereka hanya meneruskan warisan kelalaian apa yang kita abaikankan dan tak pedulikan hari ini.
Khusna Banaha
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment