┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
ANDAI TANPA CINTA
ANDAI TANPA CINTA
Andai hidup tanpa cinta, hidup akan terasa hambar, hampa tanpa makna (1).
Namun dengan cinta, hidup adalah perjuangan yang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.
Andai proses pendidikan adalah tanpa cinta, mendidik hanya di kulit saja, tanpa mampu menyentuh sampai intinya.
Namun dengan cinta, proses pendidikan membutuhkan pengorbanan rasa.
Andai ilmu tanpa disertai cinta, ilmu hanyalah untuk kebanggaan dan pencitraan belaka.
Namun dengan cinta, ilmu membutuhkan keberanian untuk sendiri dan bersembunyi (2).
Andai beramal tanpa cinta, beramal hanya karena kepentingan dan takut apa kata orang.
Namun dengan cinta, amalan membutuhkan kesunyian yang sepi menyendiri dari orang-orang.
Andai belajar tanpa cinta, dorongan belajar hanya karena iming-iming harapan dan takut hukuman semata.
Namun dengan cinta, belajar membutuhkan cucuran keringat dan air mata.
Andai generasi tanpa cinta, hanyalah bagai buih di lautan yang tak berdaya, karena cinta dunia dan takut mati.
Dan dengan cinta, lahirlah generasi yang tulus berserah diri dan rela mengorbankan apa yang dimilikinya.
Karena cinta dan sabar adalah teman sejoli (3)
————————————————-
Catatan:
(1) Ibnu Taimiyah mengatakan:
الْحبّ والإرادة أصل كل فعل وحركة فِي الْعَالم
“Cinta dan kemauan adalah pokok dari setiap perbuatan dan penggerak aktifitas dunia”.(Jaami’ur rasaa’il)
(2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang merasa cukup, dan yang tersembunyi”. (HR. Muslim no. 2965)
Imam Malik rahimahullah berkata :
ﻣﻦأحب أن ﻳﻔﺘﺢ ﻟﻪ ﻓﺮﺟﺔ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﻳﻨﺠﻮ ﻣﻦ ﻏﻤﺮاﺕ اﻟﻤﻮﺕ ﻭﺃﻫﻮاﻝ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻓﻠﻴﻜﻦ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺴﺮ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ اﻟﻌﻼﻧﻴﺔ
“Siapa yang suka dibukakan kelapangan bagi hatinya, dan keselamatan dari kengerian sakaratul maut, serta dahsyatnya hari Kiamat, maka hendaknya amalannya yang disembunyikan itu lebih banyak daripada amalan yang diperlihatkan”.
(Tartiib al-Madaarik wa Taqriib al-Masaalik)
(3) Ibnul Qayyim rahimahumallah menjelaskan: “Sesungguhnya kesabaran dalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta. Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, namun saat Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain orang-orang yang bersabar”. (Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, 2/162)
Kalaulah tidak sabar memikul segala beban berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta. Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran.
Ustadz Abdul Kholiq hafidzahullah.
SKIS Semarang
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment