┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
SEKOLAH SETTINGAN
SEKOLAH SETTINGAN
Mengelola sebuah sekolah merupakan amalan yang sangat mulia dan dijanjikan pahala yang besar bagi penyelenggaranya, karena sekolah dapat memberikan kebermanfaatan yang besar bagi umat, Insya Allah.
Ganjaran bagi para pejuangnya adalah pahala atas usaha kerasnya dalam merintis sekolah.
Ganjaran bagi para pengajarnya adalah pahala atas pengajaran ilmunya.
Ganjaran bagi para donaturnya adalah pahala atas sedekah hartanya.
Lalu kenapa justru orang yang pertama kali masuk neraka adalah pejuang, ahli ilmu, dan penderma?
Ternyata ada niat lain selain lillahi ta’ala.
Ada yang berjuang agar terkenal sebagai pejuang.
Ada yang mengajarkan ilmu agar terkenal sebagai ahli ilmu.
Ada yang bersedekah agar terkenal sebagai orang dermawan(1).
Maka,
Jadikanlah niat lillahi ta’ala sebagai default (aturan dasar) pengelolaan sekolah, agar diperoleh keberkahan (2).
Jika dasar pengelolaan sekolah berbeda dengan default nya, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya menyebar promosi seluas-luasnya agar terkenal dimana-mana, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya mengejar banyaknya murid agar dianggap hebat, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya mengejar megahnya gedung agar menjadi sekolah favorit, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya menerima murid yang “sudah jadi” agar tidak sulit mengajar, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya mengejar piala agar dianggap sekolah juara, maka jadilah sekolah settingan.
Jika hanya menuruti apa maunya walimurid agar tetap dapat duit, maka jadilah sekolah settingan.
Tidak mengapa sekolah menjadi terkenal, asal karena kualitas pendidikan, bukan hasil promosi settingan.
Tidak mengapa muridnya banyak, asal sesuai dengan kemampuan, bukan hasil marketing settingan.
Tidak mengapa menjadi sekolah favorit, asal dari prestasi murid, bukan hasil administrasi settingan.
Tidak mengapa menjadi juara, asal dari hasil prestasi yang merata, bukan hasil prestasi settingan.
Tidak mengapa murid yang diterima “sudah jadi”, asal dari penerimaan sejati, bukan hasil seleksi settingan.
Tidak mengapa menuruti apa mau walimurid, asal tetap memperhatikan keadaan murid, bukan dengan murid settingan.
Jadilah ikhlas, agar sekolah menjadi berkah!
Ustadz Abdul Kholiq hafidzahullah.
Catatan kaki:
(1) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya) : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka’”. (HR. Muslim, 1905)
(2) Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
تَعَلَّمُوا النِّيَّةَ فَإِنَّهَا أَبْلَغُ مِنَ الْعَمَلِ
“Belajarlah kalian tentang niat karena niat yang baik lebih penting dari sekadar beramal”. (Hilyatul Auliya, 70/3)
Ustadz Abdul Kholiq hafidzahullah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment