┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
TIDAK NAIK KELAS: SOLUSI ATAU LUKA BARU?
TIDAK NAIK KELAS: SOLUSI ATAU LUKA BARU?
Ketika Gejala Diatasi, tetapi Akar Penyebabnya Terabaikan
____
Banyak anak kehilangan gairah belajar, lalu dicap malas, tidak disiplin, sulit diatur, bahkan dianggap bermasalah. Namun, jika seorang anak tertinggal, apakah yang perlu diperbaiki anaknya, cara belajarnya, atau pendekatan pendidikan yang diterimanya?
Dalam dunia kesehatan, demam merupakan gejala yang perlu dicari penyebabnya. Begitu pula dalam pendidikan. Nilai rendah, kesulitan memahami pelajaran, dan hilangnya motivasi belajar tidak selalu berarti anak kurang berusaha. Bisa jadi ada hambatan belajar, tekanan emosional, atau kebutuhan perkembangan yang belum dipahami.
Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Sebagian membutuhkan metode belajar yang berbeda, sebagian memiliki hambatan belajar yang belum terdeteksi, dan sebagian lainnya sedang menghadapi persoalan emosional yang memengaruhi proses belajarnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ
> “Katakanlah (Muhammad), ‘Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.'”
(QS. Al-Isra’: 84)
Bukankah Allah telah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki keadaan dan kecenderungannya masing-masing?
Setiap anak memiliki bakat dan potensi unik yang mesti ditumbuhkan sesuai fitrahnya.
Lantas, mengapa dalam pendidikan kita justru sering menuntut semua anak belajar dengan cara, kecepatan, dan target yang seragam?
Memahami perbedaan bukan berarti membiarkan anak tanpa arahan. Justru, pendidik perlu mengenali potensi unik, tahap perkembangan dan kebutuhan belajarnya agar dapat memberikan pendampingan yang tepat. Sebab, tidak semua bunga mekar pada musim yang sama. Anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh sesuai tahap perkembangan dan kebutuhannya.
Lalu, apakah tiinggal kelas menyelesaikan masalah?
Tidak naik kelas kerap diklaim sebagai bagian dari evaluasi. Namun, apakah keputusan itu otomatis membuat anak memahami pelajaran yang sebelumnya belum dikuasainya?
Jika materi pelajaran terlalu tinggi untuk tahap perkembangan anak dan disampaikan dengan metode yang tidak tepat, persoalannya tidak bisa dibebankan kepada anak semata.
Menahan anak di kelas yang sama tanpa memperbaiki akar kesulitannya berisiko membuat anak kembali menghadapi persoalan yang sama. Anak diminta mengulang, tetapi cara belajar yang membuatnya kesulitan justru tidak berubah.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
«حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
> “Bicaralah (didiklah) kepada orang lain sesuai dengan apa yang dapat mereka pahami. Apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(HR. Bukhari No. 127)
Atsar ini mengingatkan akan pentingnya mempertimbangkan kemampuan pemahaman orang yang menerima ilmu. Dalam pendidikan, pendidik tidak cukup hanya menuntaskan materi, tetapi juga perlu memastikan bahwa cara penyampaiannya membantu anak memahami ilmu.
Bukankah ini dapat menjadi bahan renungan dalam mengevaluasi sistem pendidikan? Jika anak kesulitan memahami pelajaran, sudahkah memeriksa kesesuaian materi dan metode pengajarannya sebelum menyimpulkan bahwa anaklah yang bermasalah?
Karena itu, ketika anak tertinggal, jangan hanya bertanya, “Mengapa anak ini tidak mampu mencapai target?”
Bertanyalah, “Apakah materi yang diberikan sudah sesuai? Apakah metode pengajarannya tepat? Apakah sistem pembelajaran telah memberi kesempatan kepada anak untuk memahami dan mencintai ilmu dengan baik?”
Jika akar masalahnya terletak pada materi, metode, atau sistem pembelajaran, maka itulah yang harus dibenahi. Bukan menjadikan anak sasaran memikul beban target, dengan sekadar menahan anak agar tidak naik kelas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا»
> “Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini mengingatkan pendidik untuk mencari jalan yang memudahkan anak dalam belajar, bukan membuatnya semakin jauh dari ilmu. Jangan sampai ketidaktepatan dalam menyajikan ilmu justru membuat anak frustrasi, kehilangan kepercayaan diri, bahkan semakin jauh dari kecintaan terhadap ilmu.
Naik kelas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Permasalahan pendidikan bukan hanya tentang anak yang tertinggal pelajaran. Tetapi juga anak yang berhasil mencapai target akademik, tetapi tidak tumbuh dalam kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.
Ide-ide menyontek, kecurangan, memanipulasi tugas, serta mencari jalan pintas demi nilai, menunjukkan bahwa keberhasilan akademik saja tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan pendidikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
> “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Hadis ini mengingatkan bahwa mendidik bukan sekadar memberikan penilaian, melainkan juga menjalankan amanah untuk membimbing. Orang tua, guru, dan penyelenggara pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan iman, akhlak, kemandirian, dan kecintaan terhadap belajar.
Persoalan “tidak naik kelas” seharusnya mengajak para pendidik melihat lebih jauh daripada sekadar angka rapor dan ketuntasan materi.
Ketika seorang anak tertinggal, sudahkah mencari tahu penyebabnya? Sudahkah memastikan bahwa materi, metode pengajaran, dan lingkungan belajarnya mendukung proses tumbuh kembangnya?
Sebab, anak bukan sekadar peserta didik yang harus memenuhi target. Anak adalah amanah yang perlu dipahami tahap perkembangan, dibimbing, dan ditumbuhkan potensinya.
Pendidikan sejati bukan sekadar menentukan anak yang tinggal kelas, melainkan menemukan mengapa ia tertinggal dan memperbaiki cara dalam mendidik mereka.
Penulis : Khusna Banaha , Hafidzahallah
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment