KETIKA LUKA SALING BERBICARA

KETIKA LUKA SALING BERBICARA

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

KETIKA LUKA SALING BERBICARA

KETIKA LUKA SALING BERBICARA

Ada jarak tak terlihat di bawah satu atap.
Bukan karena terpisah ruang dan tempat, melainkan karena hati yang tak lagi saling bertatap.

Anak berbicara lewat tangis, amarah, dan diam.

Orang dewasa mendidik dengan sisa-sisa tenaga dan daya.

Namun ketika bahasa hati tak lagi dipahami bersama, kedekatan perlahan sirna, sementara kesalahpahaman terus bertambah.

Perilaku anak kerap dinilai sebagai keras kepala atau pembangkangan.

Padahal bisa jadi ada hati kecil yang sedang rindu didengar dan disayang.

Di sisi lain, nada suara yang meninggi dan nasihat yang terasa tajam sering kali bukan lahir dari kebencian, melainkan dari lelah yang dipendam, rasa takut yang tak terucapkan, dan luka yang belum sempat disembuhkan.

Tanpa disadari, dua luka kini saling berhadapan.

Luka baru yang tumbuh di jiwa anak yang rentan.

Dan luka lama yang masih tersimpan di dada orang dewasa.

Yang satu menangis karena bingung menyampaikan rasa.

Yang satu marah karena lelah mengelola luka yang tak kunjung reda.

Jeritan hati dikira pembangkangan.

Tangisan dianggap sekadar rengekan.

Diam diterjemahkan sebagai sikap acuh.

Dan amarah sering kali hanyalah kesedihan yang kehilangan suaranya.

Lalu lahirlah kebingungan yang tak terlihat.

Anak bingung mengapa perasaannya tak dipahami.

Orang tua bingung mengapa segala ikhtiar terasa tak berarti.

Yang satu ingin dimengerti.
Yang satu ingin dihargai.

Namun di antara keduanya, bahasa hati kehilangan penerjemahnya.

Padahal keduanya sedang menyampaikan pesan yang sama:

“Tolong pahami aku…”

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa baik dan buruknya seseorang berawal dari hati. Karena itu, saat perilaku berubah, sering kali yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga apa yang sedang terjadi di dalam dada. Sebab perilaku hanyalah suara, sedangkan hati adalah sumbernya.

Hati yang dipenuhi amarah akan sulit mendengar.

Hati yang dipenuhi prasangka akan sulit memahami.

Dan hati yang dipenuhi luka lebih mudah melukai daripada berempati.

Karena itu, pemulihan hubungan tidak selalu dimulai dari memperbaiki anak.

Sering kali perubahan justru dimulai ketika orang dewasa berani menoleh ke dalam dirinya sendiri.

Menyadari emosinya.

Mengenali lelahnya.

Memahami lukanya.

Lalu membawa semua itu kepada Allah, Sang Pemilik hati dan Penyembuh segala lara.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ ۝٤٦

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)

Betapa banyak mata yang mampu melihat perilaku anak, namun gagal melihat luka yang tersembunyi di baliknya.

Betapa banyak telinga yang mampu mendengar kata-kata, namun tak mampu menangkap jeritan hati yang tak terucap.

Saat luka saling berbicara, yang dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan.
Bukan pula menentukan siapa yang paling benar.

Yang dibutuhkan adalah hati yang tenang untuk mendengar, hati yang lapang untuk memahami, dan hati yang merendah untuk memohon pertolongan kepada Allah.

Sebab anak memang belum mampu membalut lukanya sendiri.

Namun orang dewasa telah diberi amanah untuk belajar membalut luka sebelum mewariskannya.

Belajar memeluk sebelum melukai.

Belajar memahami sebelum menuntut untuk dipahami.

Dan belajar menyembuhkan diri sebelum berharap mampu menyembuhkan orang lain.

Karena saat hati kembali mendekat kepada Allah, luka tak lagi menjadi jurang pemisah.

Ia berubah menjadi jalan menuju kasih sayang.

Menjadi jembatan menuju pemahaman.

Dan menjadi sebab dua hati yang sempat berjauhan kembali dipertemukan dalam kedamaian.

Sebab sering kali yang membuat hubungan terasa jauh bukan karena hilangnya cinta, melainkan karena luka yang berbicara lebih keras daripada cinta itu sendiri.

Penulis : Khusna Banaha , Hafidzahallah

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *