KETIKA YANG TAK LAZIM DIANGGAP SALAH

KETIKA YANG TAK LAZIM DIANGGAP SALAH

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

KETIKA YANG TAK LAZIM DIANGGAP SALAH

KETIKA YANG TAK LAZIM DIANGGAP SALAH

Setiap zaman selalu melahirkan arus pemikiran yang dianggap sebagai kebenaran. Ketika suatu cara dijalankan oleh mayoritas dalam waktu yang lama, ia perlahan diterima sebagai kewajaran. Dan ketika kewajaran itu tak lagi dipertanyakan, ia sering dianggap sebagai kebenaran yang tak boleh digugat. Akibatnya, siapa pun yang memilih jalan berbeda akan dengan mudah dianggap keliru.

Fenomena semacam ini juga terjadi dalam dunia pendidikan.

Ketika pendidikan dipersempit menjadi sekadar proses memindahkan pengetahuan, mengejar angka akademik, menumpuk hafalan, serta membentuk kebiasaan yang serba terukur, maka pendekatan yang berfokus pada pembinaan jiwa sering kali dipandang dengan curiga. Bahkan tidak jarang dianggap aneh dan tidak relevan.

Sebab dunia pendidikan hari ini cenderung lebih menghargai apa yang mudah dicitrakan daripada apa yang benar-benar menumbuhkan manusia. Nilai, prestasi, dan hafalan lebih mudah dijadikan ukuran keberhasilan. Sebaliknya, kebersihan hati, kekuatan iman, kesehatan mental, dan kematangan akhlak sering tersisih karena tidak mudah diukur maupun dipertontonkan sebagai pencapaian pendidikan.

Padahal Islam menegaskan bahwa setiap anak lahir membawa fitrah—potensi kebaikan, keunikan, dan tahapan perkembangan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan. Karena itu, memperlakukan semua anak dengan ukuran yang sama sejatinya adalah bentuk pengabaian terhadap fitrah yang Allah titipkan pada diri mereka.

Ada kalanya cara yang selama ini dianggap lazim ternyata tidak menyentuh akar persoalan.

Barangkali inilah kelemahan pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil yang tampak. Kita sibuk memperbaiki apa yang terlihat di permukaan, tetapi luput memperhatikan apa yang terjadi di dalam hati. Kita mengejar perubahan perilaku, namun melupakan sumber yang menggerakkannya.

Ketika anak kehilangan semangat belajar, kita menambah beban pelajaran.

Ketika anak sulit diarahkan, kita memperbanyak nasihat dan ceramah.

Ketika anak mengulangi kesalahan, kita memperketat aturan dan hukuman.

Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur, benarkah masalah terbesar anak-anak kita hari ini terletak pada kurangnya pengetahuan dan aturan?

Bukankah Al-Qur’an dan sejarah telah menunjukkan bahwa banyak manusia mengetahui kebenaran, tetapi enggan tunduk kepadanya? Bukankah tidak sedikit anak yang mampu menghafal berbagai nasihat, tetapi hatinya belum pernah disentuh untuk mencintai kebaikan yang dinasihatkan itu?

Di sinilah kita perlu menyadari bahwa manusia bukan sekadar akal yang harus diisi, bukan pula jasad yang terus dibebani. Di dalam dirinya ada hati yang menentukan arah kehidupannya. Ketika hati itu hidup, kebaikan akan mudah bertumbuh. Namun ketika hati itu sakit, ilmu dan aturan sering kehilangan pengaruhnya.

Ilmu itu penting.

Pembiasaan juga penting.

Namun keduanya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir pendidikan.

Dalam pandangan Islam, ada wilayah terdalam dalam diri manusia yang memengaruhi seluruh amal perbuatannya; kesadaran iman, keikhlasan, kecintaan kepada kebaikan, dan rasa bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Justru bagian inilah yang sering luput dari perhatian ketika pendidikan terlalu sibuk mengukur angka, capaian, dan prestasi yang tampak di permukaan.

Maka pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada tahap membuat anak mengetahui apa yang benar. Pendidikan harus sampai pada tahap menumbuhkan kecintaan terhadap kebenaran itu.

Pendidikan tidak cukup melahirkan anak yang patuh karena takut pada hukuman. Pendidikan harus membimbing anak hingga ia memahami mengapa ia harus taat kepada Rabb yang menciptakannya.

Inilah pendidikan hati.

Pendidikan hati tidak lahir dari banyaknya instruksi dan panjangnya nasihat. Ia tumbuh dari keteladanan, kedekatan, kasih sayang, dialog yang mencerahkan, serta hubungan yang hangat antara pendidik dan anak.

Akal diyakinkan dengan penjelasan.

Namun hati disentuh oleh keteladanan, keikhlasan, dan cinta karena Allah.

Karena itu, ketika ada pendekatan pendidikan yang berusaha mengembalikan perhatian kepada fitrah, pembinaan hati, dan penguatan iman, sangat wajar jika ia dianggap asing oleh zamannya. Bukan karena ia salah, tetapi karena ia berbeda dari arus yang telah lama dianggap sebagai satu-satunya jalan.

Berbeda bukanlah bukti kesalahan, sebagaimana banyaknya pengikut bukan pula jaminan kebenaran.

Dalam sejarah dakwah, Rasulullah ﷺ dan para nabi sebelum beliau juga mengalami hal yang sama. Mereka dianggap asing, ditolak, bahkan dituduh menyimpang hanya karena membawa kebenaran yang berbeda dari keyakinan mayoritas masyarakat pada zamannya.

Allah Ta’ala berfirman:

«وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan engkau dengan pandangan mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, ‘Sesungguhnya dia benar-benar orang yang gila.'”

(QS. Al-Qalam: 51)»

Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk berbeda hanya demi terlihat berbeda. Namun ayat ini mengajarkan bahwa penerimaan atau penolakan manusia bukanlah ukuran kebenaran.

Ukuran kebenaran adalah wahyu Allah, sunnah Rasul-Nya, ilmu yang sahih, dan hikmah yang membawa manusia semakin dekat kepada-Nya.

Karena itu, dalam mendidik anak-anak kita, kita tidak perlu mencari jalan yang berbeda hanya untuk tampak istimewa. Namun kita juga tidak boleh takut mengevaluasi cara-cara yang selama ini dianggap benar ketika ternyata belum mampu melahirkan perubahan yang diharapkan.

Karena yang dibutuhkan anak-anak kita hari ini bukanlah ketegasan yang makin keras atau target-target kognitif yang makin tinggi.

Hari ini, yang mereka rindukan adalah hadirnya orang dewasa yang tulus memahami hatinya, membersamai proses tumbuhnya, serta menuntunnya menemukan kembali fitrah kebaikan yang Allah tanamkan dalam dirinya.

Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar melahirkan anak yang cerdas secara intelektual atau patuh secara lahiriah. Tujuan pendidikan adalah mengantarkan generasi menjadi hamba Allah yang mencintai kebaikan, memahami tanggung jawabnya, dan tetap memilih jalan ketaatan meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya selain Allah Azza wa Jalla.

Sebab tidak semua yang lazim membawa manusia kepada kebaikan. Dan tidak semua yang berbeda adalah jalan yang keliru.

Penulis : Hubbil Haqqi

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *