ANAK PATUH ATAU ANAK SADAR?

ANAK PATUH ATAU ANAK SADAR?

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

ANAK PATUH ATAU ANAK SADAR?

ANAK PATUH ATAU ANAK SADAR?

Banyak orang tua merasa berhasil ketika anak akhirnya mau melakukan apa yang selama ini sulit dilakukan. Anak yang tadinya malas belajar menjadi rajin. Anak yang sulit disiplin menjadi lebih tertib. Anak yang susah bangun Subuh akhirnya bisa bangun tepat waktu.

Namun, pernahkah kita bertanya lebih dalam: apakah yang berubah adalah kesadarannya, atau hanya perilakunya?

Pertanyaan ini penting karena selama ini keberhasilan pendidikan sering diukur dari apa yang tampak di luar. Anak dianggap berhasil ketika patuh. Anak dianggap baik ketika tertib. Anak dianggap berkembang ketika perilakunya sesuai dengan harapan orang dewasa.

Padahal perilaku hanyalah bagian yang paling mudah dilihat. Di balik perilaku ada hati, pikiran, keyakinan, niat, motivasi, dan kesadaran yang tidak selalu tampak oleh mata.

Karena itu, perubahan perilaku belum tentu menunjukkan perubahan pada diri seseorang.

Dalam dunia pendidikan, ada pendekatan yang berfokus pada pembentukan perilaku melalui pembiasaan, pengulangan, hadiah, maupun hukuman. Pendekatan ini memang sering menghasilkan perubahan yang cepat dan mengagumkan. Anak yang sebelumnya sulit diarahkan bisa menjadi lebih patuh. Kebiasaan yang tidak diinginkan dapat berkurang dalam waktu relatif singkat.

Namun ada satu hal yang perlu dipahami. Perubahan yang dibangun dari luar sering kali bergantung pada faktor-faktor luar itu sendiri. Ketika hadiah dihentikan, semangat ikut menurun. Ketika pengawasan berkurang, perilaku lama kembali muncul. Ketika lingkungan berubah, kebiasaan yang telah dibangun perlahan memudar.

Mengapa terjadi demikian?

Karena manusia bukanlah makhluk yang hanya bergerak oleh rangsangan dan respons semata.

Manusia memiliki hati. Manusia memiliki kesadaran. Manusia memiliki kemampuan memilih. Dan yang lebih mendasar lagi, manusia memiliki benih-benih fitrah yang telah Allah tanamkan sejak lahir.

Islam mengajarkan bahwa yang dinilai dari manusia bukan hanya apa yang tampak, tetapi juga apa yang hidup di dalam dirinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Dua orang dapat melakukan perbuatan yang sama, tetapi nilainya di sisi Allah bisa berbeda karena niat yang berbeda.

Artinya, Islam tidak hanya melihat perilaku, tetapi juga kesadaran yang melatarbelakanginya.

Demikian pula dalam pendidikan.

Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak melakukan sesuatu, tetapi membantu anak memahami mengapa ia perlu melakukannya.

Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak shalat, tetapi menumbuhkan kesadaran mengapa ia membutuhkan shalat.

Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak belajar, tetapi menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu.

Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak berbuat baik, tetapi menumbuhkan kecintaan terhadap kebaikan.

Karena apa yang dilakukan dengan kesadaran akan jauh lebih kokoh dibandingkan apa yang dilakukan karena tekanan.

Coba perhatikan seorang anak yang harus dibangunkan berkali-kali untuk shalat Subuh. Namun ketika ia akan diajak ke tempat yang sangat ia sukai, berangkat esok shubuh, ia akan bisa bangun sendiri bahkan sebelum orang tuanya bangun.

Apa yang membedakan keduanya?

Bukan kemampuannya untuk bangun shubuh.

Melainkan dorongan yang ada di dalam hatinya.

Ketika hati mencintai sesuatu, tubuh akan mengikutinya.

Karena itulah kecintaan sering kali lebih kuat daripada paksaan.

Tentu hal ini bukan berarti pembiasaan tidak diperlukan. Pembiasaan tetap memiliki tempat dalam pendidikan. Anak tetap perlu dilatih, diarahkan, dibimbing, dan dibiasakan melakukan kebaikan.

Namun pembiasaan hanyalah sarana, bukan tujuan.

Jika pembiasaan tidak disertai penumbuhan kesadaran, maka yang lahir sering kali hanyalah kepatuhan yang bergantung pada pengawasan.

Sebaliknya, ketika pembiasaan berjalan seiring dengan tumbuhnya kesadaran, maka perlahan-lahan kebaikan itu akan menjadi bagian dari diri anak.

Inilah yang membedakan antara kebiasaan karena disuruh dan kebaikan karena tumbuh dari kesadaran dalam dirinya.”

Seseorang bisa melakukan sesuatu karena terbiasa. Tetapi seseorang menjadi pribadi yang kokoh ketika nilai-nilai kebajikan itu telah terinternalisasi dalam dirinya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ﴾

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30)

Ayat ini mengingatkan bahwa dalam diri setiap anak telah Allah tanamkan benih-benih kebaikan. Tugas pendidikan bukan menciptakan fitrah itu, melainkan menjaga, merawat, dan menumbuhkannya.

Karena itu, Pendidikan Berbasis Fitrah tidak berangkat “Bagaimana mengendalikan perilaku anak?”

Tetapi sebagai fondasi mendasar pendidikan fitrah:

“Bagaimana menumbuhkan kesadaran yang akan melahirkan perilaku baik secara alamiah?”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini menunjukkan bahwa perubahan yang sejati selalu berawal dari dalam.

Hati yang baik akan melahirkan perilaku yang baik. Kesadaran yang tumbuh akan melahirkan amal yang kokoh.

Maka yang patut untuk direnungkan bukanlah:
“Bagaimana membuat anak terlihat baik?”

Melainkan:
“Bagaimana mendampingi anak agar mencintai kebaikan itu sendiri?”

Karena pendidikan sejati bukan sekadar membentuk perilaku.

Pendidikan sejati adalah menumbuhkan kesadaran fitrah yang akan melahirkan perilaku baik dari dalam diri anak.

Wallahu a’lam.

Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *