CINTA DAN KETELADANAN

CINTA DAN KETELADANAN

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

CINTA DAN KETELADANAN

CINTA DAN KETELADANAN

Mari kita camkan kembali bahwa cinta dan keteladanan adalah dua sayap yang tak dapat dipisahkan dalam pendidikan. Kehilangan salah satunya akan membuat perjalanan pendidikan kehilangan arah dan tidak mampu mencapai tujuan yang diharapkan.

Cinta tanpa keteladanan hanya akan menuai kekecewaan, sedangkan keteladanan tanpa cinta akan terasa hampa dan kehilangan ruhnya.

Sering kali kita merasa telah mencurahkan cinta yang begitu besar kepada anak-anak. Namun, belum tentu mereka merasakan cinta itu sebagaimana yang kita maksudkan. Bahkan, bisa jadi mereka merasa kurang dicintai, atau tidak dicintai sama sekali. Bukan karena cinta itu tidak ada, melainkan karena kita kurang tepat dalam menyampaikannya.

Kita lupa bahwa setiap anak memiliki bahasa hati yang berbeda. Ketika kita gagal memahami dan menyampaikan cinta sesuai bahasa hati mereka, di situlah berbagai persoalan sering bermula.

Lebih dari itu, cinta yang dipenuhi syarat dan tuntutan akan menjadi beban bagi hati anak. Hubungan yang semestinya hangat dan erat perlahan merenggang, seperti tali yang terlepas dari simpulnya. Karena itu, berikanlah cinta yang tulus, cinta yang menerima mereka apa adanya, tanpa dibebani ambisi dan obsesi yang sesungguhnya lebih mencerminkan keinginan kita daripada kebutuhan mereka.

Ketika cinta mulai diukur oleh pencapaian dan harapan yang berlebihan, saat itulah kita perlu mengoreksi cara kita mencintai.

Namun cinta saja tidak cukup. Jika kita berharap anak mengikuti kebaikan yang kita inginkan, maka mulailah dengan memberi teladan. Bukan dengan banyak perintah, apalagi kata-kata yang keras. Keteladanan adalah bahasa pendidikan yang paling kuat.

Anak-anak akan lebih mudah mencintai dan mengikuti apa yang mereka dengar dan lihat. Mereka akan kagum kepada orang tua dan pendidik yang menghadirkan ketulusan cinta dalam tindakan nyata. Dari kekaguman itulah tumbuh kecintaan, dan dari kecintaan itulah lahir keinginan untuk meneladani.

Kita semua adalah pendidik yang dituntut menjadi teladan yang baik. Anak-anak belajar dari apa yang kita perdengarkan dan kita perlihatkan. Setiap ucapan, sikap, dan kebiasaan kita direkam oleh pendengaran mereka yang tajam dan diamati oleh penglihatan mereka yang jeli.

Jika yang mereka saksikan adalah kebaikan, maka kebaikan itu akan mudah mereka ikuti. Sebaliknya, jika yang mereka lihat adalah keburukan, jangan heran apabila keburukan itu pula yang mereka tiru.

Ingatlah, anak adalah cermin bagi orang tuanya. Apa yang kita lakukan akan memantul dalam perilaku mereka. Jika kita ingin menumbuhkan generasi yang penuh cinta, kelembutan, dan ketulusan, maka semuanya harus dimulai dari diri kita sendiri. Jadilah teladan yang menghadirkan cinta dalam setiap perkataan dan perbuatan.

Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika masih kecil. Beliau meneladani apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Pada suatu malam aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun pada malam hari, lalu berwudhu dengan ringan dari sebuah bejana yang tergantung dan kemudian berdiri melaksanakan shalat. Aku pun berwudhu sebagaimana beliau berwudhu, lalu berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau memindahkanku ke sebelah kanannya, kemudian beliau melanjutkan shalat sesuai kehendak Allah.” (HR. Bukhari)

Kita juga dapat mengambil pelajaran dari atsar sahabat berikut, sebuah gambaran tentang pembelajaran alamiah melalui keteladanan.

Dari Abdullah bin Abi Bakrah rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah berkata kepada ayahku, ‘Wahai Ayah, setiap pagi aku mendengarmu berdoa: Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku, Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.’ Engkau mengulanginya tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada sore hari.” Maka ayahnya menjawab, “Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya, dan aku senang mengikuti sunnah beliau.” (HR. Abu Dawud)

Perhatikanlah dua kisah yang agung ini. Ibnu ‘Abbas tidak diperintah untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi beliau melihat, memperhatikan, lalu meneladani. Demikian pula Abu Bakrah yang mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga dzikir pagi dan petang. Kemudian Abdullah, putra Abu Bakrah, memperhatikan kebiasaan ayahnya dan bertanya tentang apa yang dilakukannya.

Inilah hakikat pendidikan melalui keteladanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik dengan teladan dan contoh sebelum perintah. Para sahabat meneladani beliau, lalu anak-anak mereka meneladani orang tuanya. Kebaikan mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui teladan yang hidup.

Karena itu, marilah kita renungkan. Dalam mendidik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa cinta dan keteladanan memiliki pengaruh yang sangat besar. Tidak berlebihan jika peribahasa yang masyhur mengatakan, “Satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat.”

Sebagai orang tua dan pendidik, marilah kita menempuh jalan pendidikan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan menghiasi diri menggunakan dua karakter utama: cinta dan keteladanan. Dengan keduanya, insya Allah karakter anak-anak akan bertumbuh dengan indah sesuai fitrahnya.

Semoga Allah menjadikan mereka anak-anak yang shalih dan shalihah, kokoh imannya, mulia akhlaknya, serta menjadi keberkahan bagi agama, keluarga, dan umat. Aamiin.

—————————–

Catatan Kaki:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ لَيْلَةً فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ اللَّيْلِ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ مِنْ شَنٍّ مُعَلَّقٍ وُضُوءًا خَفِيفًا ثم قَامَ يُصَلِّي فَتَوَضَّأْتُ نَحْوًا مِمَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ جِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَحَوَّلَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ صَلَّى مَا شَاءَ اللَّهُ……

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Pada suatu malam aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam. Hingga pada suatu malam, beliau bangun dan berwudlu dari bejana kecil dengan wudlu ringan, lalu berdiri dan shalat. Aku ikut berwudlu dari bejana yang beliau gunakan, kemudian menghampiri beliau dan ikut shalat di sisi kirinya. Beliau menggeser aku ke sisi kanannya, lalu shalat sesuai kehendaknya.” (HR. Bukhari)

عن عبد الله بن ابي بكرة رحمه الله قال: قلت لابي: يا ابت اسمعك تقول كل غداة: اللهم عافني في سمعي اللهم عافني في بصري ولا اله الا أنت. تكررها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي. فقال: يا بني! اني سمعت رسول الله ص. يدعو بهن، فانا أحب ان استن بسنته
اخرجه ابو داود

Dari Abdullah bin Abi Bakrah rahimahullah berkata: “Aku pernah bertanya kepada bapakku, wahai bapakku, setiap pagi aku mendengarmu mengucapkan doa, “Ya Allah berikanlah kesehatan pada pendengaranku, Ya Allah berikanlah kesehatan pada penglihatanku, tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau”.
Engkau mengucapkannya berulang tiga kali setiap pagi, dan tiga kali setiap sore, lalu si ayah menjawab: “Wahai anakku aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya, lalu aku senang mengikuti sunnahnya.
(HR. Abu Dawud)

Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *