ANAK ITU BENIH, BUKAN BATA

ANAK ITU BENIH, BUKAN BATA

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

ANAK ITU BENIH, BUKAN BATA

ANAK ITU BENIH, BUKAN BATA

Mengapa Banyak Paradigma Pendidikan Keliru Memahami Anak?

Bagaimana sebenarnya kita selama ini dalam memandang mereka?

Karena di balik setiap metode pendidikan, selalu ada cara pandang tentang anak.

Jika anak dipandang seperti wadah kosong, maka pendidikan akan berusaha mengisinya.

Jika anak dipandang seperti bahan mentah, maka pendidikan akan berusaha membentuknya.

Jika anak dipandang seperti bata, maka pendidikan akan sibuk menyusun, mencetak, menyeragamkan, dan memastikan setiap anak memiliki bentuk yang sama.

Namun Islam memandang anak dengan cara yang berbeda.

Anak bukan benda mati yang dapat dibentuk sesuka hati.

Anak adalah makhluk hidup yang Allah ciptakan dengan fitrah, potensi, kecenderungan kepada kebaikan, dan keunikan yang telah tertanam sejak lahir.

Anak bukan bata.

Anak adalah benih.

Perbedaan cara pandang ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya melahirkan perbedaan yang sangat besar dalam praktik pendidikan.

Perhatikanlah Allah ketika menceritakan kisah Maryam, Allah Ta’ala berfirman:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ

“Maka (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik dan membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik…” (QS. Ali Imran: 37)

Menariknya, Allah menggunakan ungkapan:

وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ

“wa ambataha nabatan hasanan” yang bermakna “menumbuhkan dengan pertumbuhan yang baik”.

Allah tidak mengatakan membentuk Maryam.
Allah tidak mengatakan membangun Maryam.
Tapi, Allah mengatakan menumbuhkan Maryam.

Allah telah memberikan pengajaran yang begitu indahnya kepada manusia bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pertumbuhan.

Sebagaimana benih yang tumbuh menjadi pohon besar, manusia pun tumbuh menuju kematangan dirinya.

Tugas pendidik bukan menciptakan pertumbuhan.

Karena pertumbuhan adalah sunnatullah.

Tugas pendidik adalah menghadirkan lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan itu terjadi dengan baik.

Lantas…

Jika anak adalah benih, mengapa pendidikan sering memperlakukannya seperti bata?

* Paradigma Pertama:

Anak Dianggap Kertas Kosong.

Di sinilah akar masalahnya. Banyak teori pendidikan berangkat dari asumsi bahwa anak lahir tanpa isi sehingga tugas pendidikan adalah mengisi, membentuk, dan mencetaknya.

Padahal Islam justru menyatakan:

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”

Artinya anak bukan ruang kosong.
Anak sudah membawa benih.

Jika seorang petani menganggap lahan yang ditanami mangga sebagai lahan kosong, maka ia akan merusak benih yang sudah ada di dalamnya.

Begitu pula pendidikan yang tidak mengenal fitrah anak.

* Paradigma Kedua:

Character Building

Inilah paradigma yang paling populer. Mendidik karakter dianggap sesuatu yang harus dibangun. Tetapi membangun adalah pekerjaan terhadap benda mati.

Rumah dibangun.
Gedung dibangun.
Jembatan dibangun.

Sementara anak adalah makhluk hidup.

Maka istilah yang lebih tepat bukan character building tetapi character growing.

Karakter bukan bata yang ditata dari luar.
Karakter adalah benih yang tumbuh dari dalam.

* Paradigma Ketiga:

Pembiasaan Sebagai Jalan Utama

Pembentukan Karakter
Ini yang menarik.
Banyak sekolah mengatakan:

> “Karakter dibentuk melalui pembiasaan.”

Lalu pertanyaannya:

Jika pembiasaan cukup membentuk karakter, mengapa yang sejak anak kecil dibiasakan shalat tetapi meninggalkan shalat ketika ia besar?

Mengapa banyak anak yang terbiasa antre di sekolah tetapi menyerobot ketika tidak diawasi?

Karena pembiasaan hanya melatih perilaku.
Tapi Karakter lahir dari kesadaran.

Pembiasaan penting.
Tetapi tanpa penyadaran hati, ia hanya menghasilkan rutinitas hampa tanpa makna.

* Paradigma Keempat:

Reward dan Punishment

Paradigma ini menganggap perilaku manusia dapat direkayasa sekadar melalui hadiah dan hukuman.

Padahal karakter sejati justru tampak ketika hadiah dan hukuman tidak ada.

Jika anak jujur karena hadiah, maka yang tumbuh adalah orientasi imbalan.

Jika anak patuh karena takut hukuman, maka yang tumbuh adalah rasa takut.

Tetapi jika anak berbuat baik karena mencintai Allah, maka yang tumbuh adalah akar kesadaran.

* Paradigma Kelima:

Penyeragaman Anak

Ini ciri khas pendidikan yang memandang anak seperti bata.

Semua harus sama.
Semua harus mencapai target yang sama.
Semua harus belajar dengan cara yang sama.

Padahal tidak ada petani yang marah karena pohon mangga tidak berbuah seperti pohon apel.

Setiap benih memiliki keunikan.
Begitu pula setiap anak.

* Paradigma Keenam:

Obsesi pada Hasil Cepat

Benih memiliki musim tumbuh.
Tetapi pendidikan modern sering tidak sabar.

Tergesa-gesa
Terburu-buru
Ingin panen hasil

Anak usia dini dipaksa akademik.
Anak dipaksa mencapai target sebelum waktunya.
Anak dipaksa matang sebelum matang.

Akibatnya banyak anak terlihat berhasil secara akademik tetapi rapuh jiwanya, rapuh secara emosional dan spiritual.

Karena sebenarnya momong, among, dan ngemong lahir dari paradigma benih, bukan paradigma bata.

Momong → merawat tanah.
Among → memberi teladan.
Ngemong → mengamati pertumbuhan.

Selama anak dipandang sebagai bata, pendidikan akan sibuk mencetak, membentuk, menyeragamkan, dan mengendalikan.

Namun ketika anak dipandang sebagai benih, pendidikan berubah menjadi proses merawat, membersamai, mengamati, dan menumbuhkan.

Sebab tugas pendidikan bukan membentuk manusia.
Allah telah menciptakan manusia dengan fitrahnya.

Tugas pendidik hanyalah menjaga agar fitrah itu tumbuh dengan baik.

Karena anak itu bukan bata yang seenaknya bisa ditata.

Anak itu benih yang butuh tumbuh dan dijaga.

Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *