┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
MENGHAPUS NODA HATI
(Bagian 1: Penyebab luka hati)
MENGHAPUS NODA HATI
Hati merupakan bagian dari jiwa, bahkan merupakan pemimpinnya. Maka luka hati termasuk juga luka jiwa, karena luka itu mengganggu ketenangan jiwanya. Gangguan kejiwaan tidak semata-mata hanya ditetapkan untuk orang gila yang hilang akal, namun juga untuk semua kondisi yang menjadikan jiwa tidak tenang, seperti sedih, sakit hati, terkejut, stress, depresi, trauma, dendam, luka pengasuhan, hutang pengasuhan, luka persepsi, dan ratusan kondisi lainnya, dengan tingkat gangguan yang berbeda-beda.
Luka hati bermula dari adanya rasa tidak enak di hati (apapun itu namanya), akibat dari rasa tidak suka atau kecewa terhadap kenyataan yang dihadapinya, yang ternyata tidak sesuai dengan harapan atau tidak sesuai dengan yang diperkirakannya. Jika rasa kecewa itu ringan, maka hanya akan melukai hati dengan sayatan yang ringan saja. Namun jika rasa kecewa itu berat, maka akan menyayat hati jauh lebih dalam. Meskipun demikian, luka hati yang mendalam juga dapat terbentuk dari luka ringan yang terjadi berulang-ulang, sehingga sayatan ringan yang berulang-ulang akan menjadikan luka makin mendalam.
Bagi pribadi dewasa, adanya luka hati bukan semata-mata disebabkan oleh kenyataannya yang tidak sesuai harapan, namun dapat disebabkan oleh harapan yang terlalu tinggi melebihi biasanya, sehingga kenyataan yang biasa terjadi, dianggap tidak sesuai dengan yang diharapankan. Padahal bukan kenyataannya yang kurang, tetapi harapannya yang terlalu tinggi. Maka hal ini akan melukai hati meskipun akibat ulahnya sendiri.
Luka hati pada pribadi dewasa juga bisa terbentuk karena adanya luka sejak kecil yang belum terbasuh pada fase sebelumnya, sehingga setelah dewasa jiwanya belum siap menghadapi kenyataan, meskipun kenyataan yang biasa saja.
Kondisi luka hati pada pribadi dewasa tersebut sejatinya disebabkan oleh ego (keakuan) yang terlalu tinggi, baik karena harapan terlalu tinggi atapun karena ego (keakuan) masa kecil yang belum tuntas pada masa emas sebelumnya.
Misal,
Kasus dewasa 1:
Si A merasa direndahkan oleh Si B. Padahal si B bersikap biasa saja pada umumnya.
Jika A merasakan sakit hati, berarti A tanpa sadar telah meninggikan keakuan atau harapannya untuk mendapatkan validasi (pengakuan) dari B agar dirinya diakui (divalidasi) tidak serendah yang disangka. Namun dalam kenyataan A tidak mendapatkannya. Maka terjadilah sakit hati atau kecewa akibat tidak ada kesesuaian antara kenyataan dengan harapannya. Inilah yang dinamakan luka hati.
Atau A merasakan sakit hati karena ada luka sebelumnya. Sehingga A tidak mampu menerima kenyataan yang sebenarnya biasa saja.
Kasus dewasa 2:
Si A kehilangan sejumlah uang dan tidak tahu harus mencari kemana untuk menemukannya.
Jika A merasakan shock atau takut, maka hal ini berarti A telah menaikkan harapannya lebih tinggi untuk mendapatkan kembali uangnya yang kenyataannya belum ditemukan. Maka si A merasa kenyataan yang ada tidak sesuai harapannya. Inilah yang dinamakan luka hati.
Adapun bagi anak-anak, adanya luka hati biasanya disebabkan oleh pola asuh yang tidak sesuai dengan kondisi hati anak. Yang mana kondisi hati anak berbeda pada setiap fase perkembangannya. Sehingga jika pola asuh tidak sesuai dengan kondisi anak, maka anak akan merasakan bahwa pola asuh yang diterimanya tidak sesuai dengan yang diperkirakannya. Maka hal ini akan melukai hatinya.
Misal,
Kasus anak PAUD:
Pada fase kanak-kanak usia PAUD, seharusnya dominan diasuh dengan pola asuh bahasa hati, karena pada fase ini kondisi hati anak masih sensitif dan butuh ruang untuk mengekspresikan egosentrisnya. Namun jika anak tergesa diasuh dengan bahasa lisan atau bahasa tangan, maka hati anak dapat terluka. Karena anak merasa bahwa pola asuh yang diterimanya berlebihan dari apa yang diperkirakannya. Maka dapat dikatakan bahwa hati anak telah terluka.
Bersambung insya Allah …
Abdul Kholiq
Sekolah karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang
Catatan:
Pada hakekatnya hati yang terluka adalah hati yang ternoda oleh noda hitam akibat terjadinya suatu kesalahan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Jika seorang hamba melakukan satu kesalahan, maka akan ternoda di hatinya satu noda hitam”. (HR. At Tirmidzi, 3334)
Penulis : Ustadz Abdul Kholiq Hafidzahullah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment