┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
Benarkah PSIKOLOGI itu AGAMA?
Benarkah PSIKOLOGI itu AGAMA?
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, atau ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang sejatinya didorong oleh jiwa. Sedang dalam syariat Islam, jiwa merupakan suatu hal yang sangat penting, bahkan paling penting dalam pelaksanaan syariat, karena jiwa adalah hakekat diri manusia itu sendiri. Setidaknya ada lebih dari dua ratus enam puluh ayat Al Qur’an yang di dalamnya terkandung kata jiwa, sehingga tentang jiwa dapat dikatakan bahwa:
Jiwalah yang dibebani syariat untuk dijalankan(1).
Jiwalah yang dijaga eksistensinya oleh syariat untuk dipertahankan(2).
Jiwalah yang diseru untuk kembali kepada Tuhannya(3).
Dan masih banyak yang lain lagi aturan syariat tentang jiwa.
Jika demikian, maka orang yang paling kompeten dalam psikologi seharusnya adalah orang yang paling paham tentang ilmu Agama, yaitu ilmu yang bersumber dari Pencipta jiwa itu sendiri. Tidak ada yang lebih mengetahui tentang suatu ciptaan, kecuali penciptanya sendiri, sehingga tidak ada yang yang lebih mengetahui tentang jiwa kecuali Allah ‘azza wajalla. Dan tidak ada sumber ilmu tentang jiwa yang paling shahih kecuali bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Adapun jika ilmu jiwa dipelajari dari hasil pemikiran manusia saja, maka hal ini bisa diibaratkan sebuah produk yang berusaha memahami dirinya hanya dari apa yang diketahuinya saja tanpa mempedulikan informasi yang tidak diketahuinya dari Penciptanya, tentu saja hasilnya tidak akan lebih sempurna. Bisa jadi ilmu tersebut menjadi delusi, yang diyakini sebagai ilmu pengetahuan ternyata bukan ilmu pengetahuan, sehingga akan menyebabkan kebingungan bagi umat ini.
Jika ternyata hasil observasi dan pemikiran manusia selaras dengan yang disyariatkan, maka hal ini merupakan sebuah hikmah dan merupakan kebenaran. Namun hal ini bukan berarti bahwa syariat akan menjadi lengkap kebenarannya jika telah ditemukan hikmahnya. Sebab tanpa hikmahpun, syariat sudah lengkap dari sebelumnya dan tidak membutuhkan pelengkap dari yang lainnya(4). Bukan pula untuk dipadukan agar menjadi lebih sempurna, karena syariat telah sempurna dari sebelumnya. Bukan pula untuk penguat kebenarannya, karena kebenaran syariat adalah mutlak yang tidak perlu penguat dari lainnya.
Namun demikian, hikmah tentang ilmu jiwa hasil pemikiran manusia tersebut tidaklah menjadi hal yang sia-sia, jika hal ini dilakukan karena adanya keterbatasan dan kesulitan memahami langsung kepada sumber autentiknya, maka menemukan hikmah merupakan suatu keutamaan.
Tanpa mengurangi sedikitpun dukungan dan rasa hormat kepada para pejuang ilmu jiwa, para psikolog, psikiater, dan praktisi lainnya atas usaha keras, pengorbanan, dan perjuangannya, jika menggunakan metode lain yang tidak bersumber dari Agama, tanpa peduli sesuai syariat atau tidak, maka meskipun semua manusia membenarkannya, bisa jadi metode tersebut bukanlah kebenaran. Atau jika ada metode lain yang dianggap kurang Islami, lalu digabungkan dengan syariat agar lebih Islami, maka sejatinya hal ini seperti melakukan persilangan dua tanaman yang tidak serumpun. Maka sepertinya tidak perlu mengimport metode non Islam lalu di Islamkan agar menjadi Islami, karena metode tersebut memiliki akar yang berbeda.
Jadi …
Wahai para pejuang ilmu jiwa dari kalangan muslimin dan muslimat, cukupkanlah ilmu dari Allah ta’ala tentang jiwa menjadi sumber utama belajar kita. Sebab dari sanalah semua misteri jiwa akan tersingkap dan dari sanalah cahaya kebenaran akan bersinar.
Jika psikologi itu agama, maka pelajarilah ilmu psikologi dari sumber yang jelas kebenarannya, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.
Abdul Kholiq
Catatan:
(1) Allah ta’ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani satu jiwapun melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al Baqarah: 286)
(2) Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ وَمَنْ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar”. (Al Isra’: 33)
(3) Allah ta’ala berfirman:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajr: 27-30)
(4) Allah ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Al Ma’idah: 3)
Penulis : Ustadz Abdul Kholiq Hafidzahullah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment