┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛
Pendidikan Karakter Nabawiyah
MEMA'RUFKAN KARAKTER, BUKAN MENGUBAH FITRAH
MEMA’RUFKAN KARAKTER, BUKAN MENGUBAH FITRAH
Kekeliruan yang sering kali terjadi di dunia pendidikan adalah keinginan untuk membentuk atau mengubah karakter anak agar sesuai dengan kehendak orang tua dan para guru pendidiknya.
Anak yang terlalu aktif ingin dibuat cepat diam dan tenang.
Anak yang pendiam ingin dibuat lebih aktif dan berani bicara.
Anak yang kritis dianggap pembangkang dan ingin dibungkam.
Anak yang sensitif dianggap lemah dan dibully agar kuat mental.
Anak yang pemalu dianggap memalukan karena tak percaya diri.
Padahal dibalik karakter seorang anak terpendam potensi emas fitrah bakatnya — sifat bawaan yang diberikan Allah ta’ala sejak ia lahir.
Karena itulah hakikat pendidikan bukanlah mengubah fitrah bakat, melainkan mema’rufkan karakter.
Mema’rufkan artinya menuntun dan mengarahkan setiap potensi bakat dari keunggulan dan kelemahan kepada kebaikan yang diridhai Allah—menjaga agar tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan.
Para ulama telah menjelaskan bahwa akhlak yang mulia selalu berada pada batas garis pertengahan antara dua sifat tercela berlebihan (ifrath) dan kekurangan (tafrith) atau bermudah-mudahan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وكل خلق محمود مكتنف بخلقين ذميمين وهو وسط بينهما وطرفاه خلقان ذميمان
“Setiap sifat mulia terkepung di antara dua sifat tercela. Sifat mulia berada di tengah, sedangkan yang berada di kedua ujungnya adalah sifat tercela.”
(Madaarijus Saalikin, 2/295)
Perkataan tersebut mengajarkan bahwa hampir seluruh karakter manusia memiliki dua kemungkinan penyimpangan: berlebihan (ifrath) atau kekurangan (tafrith)
Keberanian adalah akhlak yang mulia. Namun ketika berlebihan berubah menjadi kenekatan tanpa haluan. Sebaliknya, ketika terlalu lemah berubah menjadi penakut dan pengecut.
Kedermawanan adalah kemuliaan. Namun jika berlebihan menjadi mubadzir dan pemborosan. Jika terlalu sedikit menjadi pelit dan kekikiran.
Ketegasan adalah kebaikan. Namun jika berlebihan menjadi keras dan kasar. Jika kurang menjadi lemah dan tidak berpendirian.
Dengan demikian, persoalannya bukan pada karakter itu sendiri, melainkan pada arah dan kadarnya.
Inilah yang menjadi salah satu landasan penting dalam memahami pilar-pilar akhlak bakat pada manusia.
Setiap karakter bakat yang Allah karuniakan pada diri seseorang sesungguhnya terpendam potensi kebaikan. Tidak ada karakter yang sepenuhnya itu buruk. Yang ada adalah karakter yang belum mencapai batas hingga ma’ruf.
Anak yang memiliki bakat kepemimpinan dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Namun jika berlebihan bisa menjadi terlalu dominan dan suka memaksakan.
Anak yang memiliki bakat empati dapat tumbuh menjadi pribadi yang penyayang. Namun jika tidak terkelola dapat menjadi terlalu mudah terbawa perasaan berlebihan.
Anak yang memiliki bakat kritis dapat menjadi pencari kebenaran. Namun jika berlebihan bisa berubah menjadi gemar debat dan suka membantah.
Karena itu, tugas pendidik bukan mengubah fitrah bakat, melainkan membantu anak mencapai titik keseimbangan pada akhlak mulia.
Bukan menghilangkan keberanian, tetapi mengarahkannya menjadi keberanian yang bijak.
Bukan menghilangkan ketegasan, tetapi membimbingnya menjadi ketegasan yang disertai adab.
Bukan menghilangkan sensitivitas, tetapi mengarahkannya agar menjadi empati yang kuat.
Maka, jika seseorang memahami hakikat karakter manusia, ia akan lebih bijak dalam menyikapi penilaian orang lain.
Sering kali manusia hanya melihat satu sisi dari sebuah karakter.
Mereka memuji apa yang mereka sukai dan mencela apa yang mereka tidak pahami.
Karena itulah Malik bin Dinar rahimahullah berkata:
منذ عرفت الناس لم أفرح بمدحهم ، ولم أكره ذمهم ; لأن حامدهم مفرط ، وذامهم مفرط
“Semenjak aku mengenal karakter manusia, aku tidak lagi berbangga dengan pujian mereka dan tidak pula membenci celaan mereka. Karena mereka yang memuji sering berlebihan dan mereka yang mencela pun terlalu meremehkan.”
(Siyar A’lam An Nubala, 5/362)
Betapa sering seseorang dipuji bukan karena benar-benar sempurna, tetapi karena orang lain hanya melihat sisi terbaiknya.
Dan betapa sering seseorang dicela bukan karena benar-benar buruk, tetapi karena orang lain hanya melihat kekurangannya.
Karena itu, jangan mengukur karakter dari pujian dan celaan manusia. Tapi lihatlah sejauh mana memperbaiki dan menjaga karakter tetap berada di jalan yang Allah ridhai, hingga menjadi akhlak mulia.
Maka pendidikan yang baik bukan pendidikan yang memberi label-label buruk kepada karakter anak.
Bukan pendidikan yang mudah dan cepat mengatakan:
“Anak ini nakal.”
“Anak ini malas.”
“Anak ini lambat.”
“Anak ini bodoh.”
“Anak ini terlalu keras.”
“Anak ini terlalu lemah.”
“Anak ini terlalu bandel.”
Melainkan pendidikan yang akan menjawab pertanyaan:
“Apa potensi kebaikan yang Allah titipkan di balik karakter ini?”
“Bagaimana mengarahkannya agar tidak berlebihan dengan wataknya?”
“Bagaimana menguatkan sifat yang masih terlalu lemah?”
Karena setiap karakter adalah amanah.
Setiap bakat adalah benih.
Dan setiap anak adalah ciptaan Allah yang sedang bertumbuh.
Maka tugas orang tua dan pendidik bukanlah mencabut benih bakat yang tak sesuai dengan harapannya, melainkan merawatnya agar ia tumbuh sesuai fitrah dan versi terbaiknya masing-masing.
Saat itulah pendidikan yang sekadar fokus mengoreksi perilaku, berganti menjadi proses memuliakan fitrah manusia.
Bukan mengubah karakter yang Allah karuniakan, melainkan mema’rufkan karakter agar tumbuh menjadi akhlak yang mulia.
Sebab setiap karakter memiliki potensi bakat yang harus dijaga fitrahnya, sekaligus kecenderungan yang harus dibimbing dan diarahkan.
Dan di situlah sejatinya letak seni mendidik: menjaga agar setiap potensi tetap berada di jalan tengah, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Wallahu a’lam bishawab
Penulis : Khusna Banaha Hafidzahallah.
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻
Add a Comment