Ego Kurang Gizi

Ego Kurang Gizi

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

Ego Kurang Gizi

Ego Kurang Gizi

Ego adalah sebuah kata dalam Bahasa Latin, yang dalam Bahasa Jerman disebut “ich”, dalam Bahasa Arab disebut “ana”, dan dalam Bahasa Indonesia disebut “aku”.

Ego juga membutuhkan asupan gizi sebagaimana badan membutuhkan gizi dari makanan yang dikonsumsinya. Adapun kebutuhan gizi untuk ego adalah terpenuhinya “keakuan”, dan cara pemenuhannya dengan memberikan “pengakuan”. Keakuan disebut dengan “egois” sedang pengakuan disebut “peng-egois-an”. Keduanya berasal dari kata “aku” sebagaimana makna ego itu sendiri.

Contoh kebutuhan gizi ego yang berupa keakuan tersebut, antara lain:
– Ingin dirinya dianggap penting.
– Ingin kemauannya dipenuhi.
– Ingin dirinya dianggap hebat.
– Ingin dirinya dispesialkan.
– Ingin diperhatikan.
– Ingin disayangi.
– Dan sejenisnya.

Semua sikap tersebut sebenarnya adalah keakuan atau sikap egois. Namun semua itu wajar bagi anak-anak, karena memang hal-hal tersebut merupakan kebutuhannya. Adapun masa emas pemenuhan gizi untuk ego adalah pada saat pena pencatat amal masih diangkat, yaitu masa anak-anak sebelum baligh atau sebelum amalan egoisnya dicatat.

Jika setelah baligh atau dewasa, pemenuhan gizi untuk ego kurang atau belum tuntas, maka jadilah pribadi yang sudah baligh (dewasa) tetapi masih berperilaku egois seperti anak-anak. Hal ini sebenarnya merupakan perilaku menuntut pemenuhan gizi ego yang kurang. Sehingga orang dewasa yang masih berperilaku egois sering dikatakan dengan istilah “masa kecil kurang bahagia”, atau memiliki “hutang pengasuhan”, atau memiliki “inner child”, atau “childist”, atau memiliki luka batin, atau lebih tepatnya dikatakan egonya kurang gizi.

Adapun pengakuan (peng-egois-an) yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi ego, tidak bisa hanya dengan pembiasaan perilaku, tidak bisa dengan diberi hukuman, bahkan tidak bisa hanya dengan nasehat lisan. Tetapi cara memberikannya dengan bahasa hati, yaitu antara lain dengan:
– Pemberian penghargaan.
– Pemberian hadiah
– Pembersamaan
– Sentuhan
– Pemaafan, atau
– Pengorbanan

Kurangnya gizi ini bukanlah karena tidak ada gizi yang dapat dikonsumsi oleh ego anak, tetapi masalah sebenarnya adalah cara menyuapinya yang tidak sesuai kondisi ego anak yang disuapi. Sehingga asupan gizi tersebut tidak dapat dikonsumsi oleh ego anak.

Adapun metode pemenuhan gizi ego dilakukan secara bertahap mengikuti perkembangan usia anak:
• 0 – 7 tahun : Puncak pemenuhan gizi ego sekitar 75% dibanding metode lainnya.
• 7 – 10 tahun : pemenuhan gizi ego sekitar 50% dibanding metode lainnya
• 10 tahun – Baligh : Pemenuhan gizi ego sekitar 25% dibanding metode lainnya.
Setelah baligh diharapkan tuntas pemenuhannya.

Jika sudah terlanjur dewasa ternyata ego masih kurang gizi, maka yang harus dilakukan adalah mengulang kembali metode yang dahulu terlewatkan. Hal ini sering disebut dengan istilah “recovery” atau pemulihan.

Berikut adalah contoh perilaku orang dewasa yang egonya kurang gizi:
• Banyak menuntut anak untuk menuruti
* keinginannya (ekspektasi terlalu tinggi).
• Merasa pendapatnya selalu lebih baik, sehingga tidak mau menerima pendapat anak.
• Tidak dekat dengan anak, kecuali hanya ketika menyuruh sholat, belajar, makan, mandi, atau memarahi.
• Menyayangi anak jika anak berbuat baik saja, dan selalu memarahinya jika anak berbuat salah.
• Membenci anak jika anak tidak mematuhinya.
• Lebih banyak melarang dari pada membolehkannya.
• Mendidik hanya dengan menasehati dan membiasakan saja.
• Sulit memaafkan kesalahan anak. dll.

Penulis : Ust. Abdul Kholiq Hafidzahullah.

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *