BERPIKIR TERBALIK tentang dunia pendidikan

BERPIKIR TERBALIK tentang dunia pendidikan

┏━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┓
MATERI SOTAB HEBAT
┗━━━━━•❥•┈•❥•━━━━┛

Pendidikan Karakter Nabawiyah

BERPIKIR TERBALIK tentang dunia pendidikan

BERPIKIR TERBALIK
tentang dunia pendidikan

Kadangkala walaupun sudah dipikirkan serius dengan arah selurus-lurusnya kedepan, masih banyak masalah-masalah pendidikan yang tetap tidak ditemukan solusinya.
Sepertinya tidak ada salahnya jika kita mencoba berpikir terbalik, siapa tahu dengan arah terbalik ini akan ditemukan solusi-solusi permasalahannya.

Misalnya tentang masalah rendahnya prosentase kehadiran siswa yang sering dikeluhkan oleh pihak sekolah, karena makin banyak siswa yang tidak hadir berarti proses pembelajaran kurang berhasil.
Mari kita coba berpikir secara terbalik tentang hal tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa makin banyak siswa yang tidak hadir berarti proses pembelajaran semakin berhasil.
Ada yang aneh?
Aneh memang !

Baiklah kita lanjutkan cara berpikir terbalik ini …

1. Makin banyak murid yang tidak masuk sekolah, berarti makin ideal pembelajarannya.
2. Makin banyak murid yang susah diatur, berarti kondisi kelas makin terkendali.
3. Makin banyak murid yang kabur dari kelas, berarti makin tertanam sikap pemberani pada murid.
4. Makin banyak murid yang tidak mengerjakan PR di rumah, berarti banyak anak rajin belajar.
5. Makin banyak murid yang tidak menguasai semua pelajaran, berarti pembelajaran makin berhasil.
6. Makin banyak murid yang tidak takut kepada gurunya, berarti wibawa guru makin meningkat.
7. Makin banyak murid yang tidak membawa buku pelajaran, berarti makin lengkap materi pembelajarannya.
8. Makin banyak murid yang bermain HP di kelas, berarti cara belajar murid makin berkembang.
9. Makin kurang ruang untuk kelas, maka murid akan semakin nyaman belajar.
10. Makin banyak murid bertingkah semaunya sendiri, berarti tujuan pendidikan makin terarah.

Mari kita analisa cara berpikir terbalik ini dengan merujuk kepada hakekat pendidikan yang sebenarnya. Dalam hal ini adalah pendidikan berbasis kemanusiaan.

1. Makin banyak murid tidak masuk sekolah, berarti makin banyak murid belajar di rumah bersama orangtuanya. Bukankah rumah merupakan tempat paling ideal untuk belajar anak ? dan bukankah penaggung jawab utama pendidikan anak adalah orangtua?
2. Makin banyak murid susah diatur, berarti banyak murid memiliki semangat untuk mengeksplore dirinya sesuai potensi uniknya yang tidak dapat diseragamkan dengan teman lainnya. Karena setiap anak memiliki potensi yang unik, maka penyeragaman metode pembelajaran untuk semua anak akan membuat anak tidak nyaman dalam belajar.
3. Makin banyak murid yang kabur dari kelas, berarti menandakan bahwa makin banyak murid yang berani mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap pembelajaran dikelasnya. Ini adalah mental pemberani. Dan ini adalah masukan penting bagi guru untuk perbaikan metode pembelajaran di kelasnya.
4. Makin banyak murid yang tidak mengerjakan PR , berarti makin banyak murid yang belajar mengurus rumah dengan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang sebenarnya seperti menyapu, mencuci, membantu ibu, dll. Sementara PR yang diberikan guru di sekolah adalah pekerjaan matematika, fisika, kimia, IPS, dll, yang sebenarnya itu adalah pekerjaan sekolah. Jika pekerjaan sekolah selalu dibawa ke rumah, kapan anak akan belajar mengurus rumah dan belajar bermasyarakat?
5. Makin banyak murid yang tidak menguasai semua pelajaran berarti potensi unik anak makin tampak. Sehingga guru dapat menumbuhkan potensi unik yang dimiliki setiap muridnya. Sebab tidak ada anak yang menguasai semua pelajaran dengan sempurna. Faktanya setiap anak memiliki kehebatan dalam bidang yang berbeda-beda. Fokus pada potensi anak, siasati keterbatasannya.
6. Makin banyak murid yang tidak takut kepada guru berarti makin banyak murid yang takutnya terhadap kegagalan masa depannya. Bukan takut terhadap hukuman dan kemarahan gurunya saja. Maka seorang guru yang dapat menanamkan tanggung jawab murid terhadap masa depannya sendiri, dialah guru yang berwibawa di depan murid-muridnya.
7. Makin bayak murid yang tidak membawa buku pelajaran, berarti murid akan memiliki kesempatan belajar bukan hanya bersumber dari buku saja, tetapi bersumber dari lingkungan sekitar, masyarakat, dan alam yang lebih luas dari sekedar buku.
8. Makin banyak murid yang bermain HP ketika di kelas, berarti murid mulai berkembang cara belajarnya melalui dunia maya yang tanpa batas sumber pengetahuannya. Anak jaman sekarang tidak bisa dipisahkan dengan HP, maka hendaknya anak diberi tugas yang bersumber dari media internet, agar lebih terarah pemanfaatan HP nya.
9. Makin kurang ruang untuk kelas, maka murid akan belajar di alam terbuka dan inilah yang membuatnya nyaman dalam belajar. Hakekat belajar adalah mengenal alam, Jika anak belajar dikurung dalam tembok-tembok kokoh sekolah, maka kesempatan murid untuk mengembangkan imaji, daya nalar, perasaan, dan gerak fisiknya akan terbatas.
10. Makin banyak murid bertingkah semaunya sendiri, berarti makin banyak murid yang sudah menemukan jati dirinya. Sehingga tujuan pendidikan bagi dirinya sudah terarah. Karena jati diri setiap anak berbeda-beda dan menuntut untuk dieksplorasi, dan dengan jati dirinya itulah nantinya dia akan berperan dalam peradaban.

Jika demikian,
Manakah yang terbalik?
Pola pikirnya
Ataukah
dunianya ?

Wallahu a’lamu bishshawab

Penulis : Ust. Abdul Kholik Hafidzahullah

SOTAB HEBAT & HCE INDONESIA

Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *